Mata uang Eropa terus diperdagangkan dalam kisaran harga yang menyempit, serta aset berisiko lainnya terlepas dari kurangnya statistik fundamental penting. Banyak trader dan investor fokus pada pergulatan perdagangan andara Turki dan Amerika Serikat, serta masalah politik di Italia, di mana pemerintahan baru menyiapkan persetujuan anggaran negara yang tampaknya tidak sejalan dengan standar yang ditentukan oleh Bank Sentral Eropa.
Setelah pernyataan yang dibuat oleh Donald Trump pekan lalu, presiden Turki tidak menyingkir dan menyerang langkah pemerintahan Gedung Putih. Recep Erdogan mengatakan bahwa beberapa orang terlibat dalam terorisme ekonomi melalui jejaring sosial, yang merupakan pengkhianatan, dan menambahkan bahwa orang-orang yang melakukan aksi tersebut akan dihukum. Pemimpin Turki ini pun menarik perhatian pada fakta bahwa indikator ekonomi makro yang fundametal saat ini sedang kuat, dan aksi AS yang berusaha menyerang Turki dari belakang dengan pajak tidak akan berhasil.
Perlu dicatat bahwa pada akhir pekan lalu, Trump menyatakan keinginan untuk menggandakan pajak pada barang-barang yang diimpor dari Turki, dan mengatakan bahwa hubungan dengan Ankara tidak dapat dianggap positif. Pemerintahan Gedung Putih memperkirakan bahwa pajak atas impor aluminium dari Turki akan menjadi 20%, dan 50% pada baja.
Sementara itu, lira Turki terus menurun dan jatuh 8% lagi terhadap dolar AS terlepas dari semua pernyataan presiden Turki. Langkah-langkah bank sentral Turki gagal untuk menenangkan para investor. Secara keseluruhan, lira turun lebih dari 40% tahun ini.
Mata uang komoditas mengabaikan statistik fundamental pada perekonomian China.
Dirilis kemarin bahwa indikator pasokan uang M2 China pada akhir Juli menunjukkan peningkatan 8,5% dengan periode yang sama pada tahun 2017. Sementara para ekonom sebelumnya telah memperkirakan pertumbuhan 8,2%.
Terdapat juga peningkatan pinjaman. Secara umum, lembaga keuangan China pada bulan Juli tahun ini mengeluarkan pinjaman baru sejumlah hingga 1,45 triliun yuan, sementara para ekonom memprediksi bahwa angka tersebut akan menjadi 1,275 triliun yuan.
Data yang lemah dari Biro Nasional Statistik China diprediksi memperlambat pertumbuhan aktivitas bisnis di China, yang merupakan alarm yang mengkhawatirkan bagi para investor.
Penjualan ritel China pada bulan Juli naik, yang menetralkan data yang lemah pada pertumbuhan bisnis. Menurut laporan, penjualan ritel naik sebesar 8,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan penjualan sebesar 9,0%.
Produksi industri China pada bulan Juli juga naik sebesar 6,0% dibanding periode yang sama pada tahun lalu, sementara para ekonom memperkirakan kenaikan sebesar 6,4% pada periode pelaporan.

* Analisis pasar yang disajikan bersifat informatif dan bukan merupakan panduan untuk bertransaksi.