Keajaiban tidak terjadi: Brexit kembali terjebak dalam kubangan negosiasi yang tidak produktif. Theresa May dan perwakilan Partai Buruh tidak dapat mencapai kesepakatan, dan fakta ini menjadi jelas. Menurut media Inggris, pada Selasa, perdana menteri seharusnya menyerahkan rencana langkah terbaru, yang akan termasuk pembentukan uni pabean sementara dengan UE (akan berlaku hingga pemilihan umum selanjutnya pada 2022), serta pengenalan barang-barang aturan pasar umum. Selain itu, Kabinet seharunya memperkenalkan (dan mendukung) pada Parlemen sebuah undang-undang yang menjamin para pekerja di Inggris Raya memiliki hak yang sama dengan para pekerja di Uni Eropa.
Setelah rilis yang bergema, pasar menunggu hari ini, namun para trader kembali kecewa: pemerintahan May gagal mencapai kesepakatan dengan Partai Buruh. Selain itu, oposisi menuduh perdana menteri melanggar kerahasiaan negosiasi. Salah satu anggota Partai Buruh yang paling berpengaruh, John McDonnell, menyerang perdana menteri dengan keritik: menurutnya, May menyebabkan "permainan ganda", mengungkap rincian dialog non-publik. Menilai dari reaksi Partai Buruh, kondisi ini dapat terus berlanjut, namun, intrik internal partai di belakang layar (baik di antara anggota Partai Buruh maupun Konservatif) menyebabkan kebocoran informasi dan skandal selanjutnya. Akibatnya, kedua pihak terpaksa bergerak mundur, menyuarakan frasa kewajiban mengenai "kelanjutan proses negosiasi".
Pada umumnya, Partai Buruh dan Konservatif telah kehilangan peluang mereka untuk mencegah Inggris berpartisipasi dalam pemilu Parlemen Eropa. Theresa May nampak kecewa hari ini: dirinya menyatakan penyesalan bahwa Inggris harus mengikuti pemilu tersebut. Memang, pemilihan perwakilan Inggris di legislatif Eropa nampak aneh, karena negara tersebut telah "selangkah lagi" meninggalkan UE. Namun, London terpaksa mengambil langkah ini, memenuhi syarat "penundaan" Brexit.
Setelah agenda-agenda pada Selasa, pound mendekati titik dasar angka ke-30 terhadap dolar, sebab prospek negosiasi selanjutnya nampak samar. masalah utamanya tidak ada suara bulat antara para anggota Partai Konservatif atau di antara perwakilan Partai Buruh. Sayap "hawkish" Konservatif secara lantang menolak uni pabean dengan Uni Eropa (bahkan jika sementara), memaksa untuk menyelenggarakan pengulangan referendum. Selain itu, menurut mereka, Inggris seharusnya memilih tidak hanya antara versi-versi Brexit, namun juga mengutarakan pendapatnya terhadap manfaat "proses perpisahan" secara keseluruhan. Mengingat perbedaan posisi politik partai-partai tersebut, tidak akan mudak bagi perdana menteri untuk mendapat suara, bahkan jika ada konsesi tertentu di pihaknya.
Namun, banyak ahli tidak kehilangan harapan bahwa Buruh dan Konservatif akhirnya akan menemukan kesepakatan, meski mungkin dibutuhkan negosiasi beberapa pekan (dan mungkin beberapa bulan). Menurut mereka, hasil pemilu lokal yang gagal (diadakan pekan lalu di Inggris dan Irlandia Utara) menyatukan posisi politik yang berlawanan. Perlu diingat bahwa Partai Konservatif Inggris Raya kehilangan lebih dari 1,3 ribu kursi dari 8,4 ribu, ketika kehilangan kendali atas 49 dewan lokal dari 248. Hasil pemilu juga mengecewakan bagi Partai Buruh: mereka kehilangan 6 dewan lokal dan 86 anggota parlemen. Kedua partai menghubungkan hasil negatif tersebut dengan Brexit, yang disebut dengan periode ketidakpastian jangka panjang, oleh karena itu, setelah pengumuman hasil pemilu, para politikus memulai proses negosiasi.
Selain itu, para analis tidak mengecualikan opsi referendum kedua. Selama satu setengah tahun terakhir, para politikus Inggris telah memperlakukan skenario ini dengan berbeda - contohnya, sekali waktu anggota Partai Buruh secara aktif melobi gagasan ini, namun kemudian meninggalkannya. Kini, banyak oposisi kembali mengkampanyekan plebisit ulang, dan diisukan akan sangat berhasil. Sehingga, menurut media Inggris, Theresa May baru-baru ini menggelar rapat dengan para asistennya dan menteri-menteri kabinet di mana dirinya mencoba merencanakan skenario jika pemerintah tidak dapat mencegah pemilihan umum Parlemen pada referendum kedua. Rapat ini digelar pada malam tahap negosiasi selanjutnya dengan Partai Buruh, yang akan digelar pada pekan ini.
Dengan kata lain, opsi referendum yang diulang tidak dapat diabaikan, meski skenario tersebut menandakan prosedur hukum yang cukup rumit (banyak undang-undang legislatif yang harus diamandemen). Namun jika kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan; para anggota Parlemen dapat mengambil langkah ini, terlepas dari semua hal negatif dan kesulitan.
Dengan demikian, mata uang Inggris tidak memiliki pilihan selain merespon rumor dan komentar selanjutnya mengenai negosiasi lebih lanjut antara Partai Buruh dan pemerintahan Theresa May. Mengingat fakta bahwa Inggris masih harus mengikuti pemilihan Parlemen Eropa, dialog selanjutnya antara kedua pihak mungkin akan kembali ditunda selama beberapa pekan.