
Setelah pertemuan Reserve Bank of Australia pada 9 Desember, retorika Gubernur Michele Bullock menjadi lebih hawkish. Baik pernyataannya maupun notulen pertemuan yang dipublikasikan menunjukkan bahwa inflasi sekali lagi menjadi pusat perhatian, dan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan telah dibahas secara aktif sejak bulan lalu.
Inflasi konsumen di negara tersebut terus meningkat: pada bulan Oktober, tingkat tahunan mencapai 3,8%, naik dari 3,6% pada bulan September dan 3,2% pada bulan Agustus. Laporan bulan November akan dirilis minggu depan. Data pertumbuhan upah juga menunjukkan bahwa tekanan harga semakin meningkat. Jika tren ini berlanjut, kemungkinan kenaikan suku bunga RBA akan meningkat, mendukung penguatan dolar Australia.
Pada saat yang sama, situasi di Amerika Serikat berkembang ke arah yang berlawanan. Federal Reserve tetap berada di tengah siklus pelonggaran moneter. Data ekonomi terbaru, termasuk statistik klaim pengangguran, cukup positif. Namun demikian, faktor politik dapat menambah ketidakpastian: Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk menggantikan Jerome Powell dengan pemimpin yang lebih dovish setelah masa jabatannya berakhir pada bulan Mei.
Di tengah liburan Tahun Baru di Jepang dan Tiongkok, aktivitas trading pada hari Jumat tetap lesu. Fokus pasar tetap pada rilis indeks aktivitas manufaktur AS (S&P Global Manufacturing PMI), di mana datanya sesuai dengan ekspektasi.
Dari perspektif teknikal, oscillator pada grafik harian tetap berada di wilayah positif, tetapi harga gagal bertahan di atas level bulat 0,6700. Dukungan sekarang diberikan oleh EMA 9-hari di dekat 0,6680. Jika level ini gagal bertahan, harga dapat mempercepat penurunannya menuju 0,6660.
Namun, jika harga berhasil menembus kembali di atas level bulat 0,6700, mereka akan siap untuk menantang level tertinggi bulan Desember.