Kenaikan harga minyak di atas $110 per barel telah memberi pukulan telak terhadap euro. Seperti dicatat oleh ANZ, EUR/USD secara tradisional bereaksi sensitif terhadap guncangan di pasar minyak. Empat tahun lalu, akibat konflik bersenjata di Ukraina, mata uang regional itu turun di bawah paritas. Hal ini terkait dengan tersisihkannya salah satu produsen terbesar, yang produksinya sekitar 10 juta barel per hari. Kini, fokus tertuju pada terganggunya jalur utama Brent dari Timur Tengah ke Eropa dan Asia yang, menurut JP Morgan, dapat mengakibatkan defisit pasokan global sebesar 10 juta barel per hari.
Zona Euro merupakan net importer produk energi, dan lonjakan tajam harga minyak dan gas dapat membuat ekonominya rentan. Tidak mengherankan jika risiko pembalikan mingguan untuk euro turun ke level terendah sejak pandemi COVID-19 serta pemilihan presiden di AS dan Prancis, yang ditandai oleh lonjakan ketegangan geopolitik. Saat ini, ketegangan tersebut mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dinamika Risiko Pembalikan untuk Euro

Konflik di Timur Tengah telah mengubah sentimen di pasar futures pada berbagai kerangka waktu. Sebelumnya, penurunan EUR/USD saat ini dianggap sekadar koreksi dalam tren naik, namun awal musim semi telah sepenuhnya membalik pandangan tersebut. Risiko pembalikan tahunan untuk euro turun ke level terendah sejak Friedrich Merz mengguncang Eropa dengan stimulus fiskal. Apakah tren bullish untuk pasangan mata uang utama ini sudah berbalik arah?
Berita buruk jarang datang sendiri. Di bawah kepemimpinan Kanselir Merkel, Christian Democratic Union kalah dalam pemilu lokal di Baden-Wurttemberg, meskipun jajak pendapat menunjukkan partai berkuasa unggul atas Greens yang akhirnya menang. Perkembangan ini semakin menambah tekanan pada penurunan EUR/USD.
Namun, alasan utama pelemahan euro adalah ancaman stagflasi yang membayangi ekonomi global. Jika harga minyak benar-benar naik hingga $150 per barel, seperti yang diperkirakan Qatar, inflasi akan melonjak, sementara PDB global akan melambat tajam. Dalam skenario seperti ini, selera risiko global akan menurun, menyeret indeks saham AS turun.
Dinamika Indeks Saham AS

Yardeni telah menaikkan probabilitas terjadinya aksi jual tajam di pasar saham AS untuk sisa tahun ini dari 20% menjadi 35%. Penurunan pada S&P 500 dan Nasdaq Composite akan memperkuat permintaan terhadap aset-aset safe-haven. Aset safe-haven utama dalam konteks konflik bersenjata di Timur Tengah adalah dolar AS.

Euro tidak mendapat dukungan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga deposito ECB. Pasar futures memperkirakan setidaknya satu langkah pelonggaran moneter pada 2026. Tidak mungkin bank sentral akan mengetatkan kebijakan moneter di tengah krisis energi. Langkah tersebut akan terlalu berisiko.
Dari sudut pandang teknikal, pada grafik harian, EUR/USD terus turun akibat terealisasinya pola 1-2-3. Namun, jika terbentuk pin bar, dapat dipertimbangkan posisi long jangka pendek di atas 1,1575. Jika euro turun di bawah $1,1540, masuk akal untuk melanjutkan penjualan.