
Emas (XAU/USD) sedang mengalami penurunan tajam hampir 2,5%, seiring kenaikan harga minyak di tengah ketidakpastian terkait kesepakatan antara AS dan Iran yang meningkatkan risiko inflasi dan mendukung penguatan dolar. Tekanan terhadap logam mulia ini kian besar akibat naiknya biaya energi dan sikap hawkish The Fed, yang mengurangi permintaan investasi. Secara keseluruhan, sentimen di pasar keuangan tetap pesimistis.

Presiden AS Donald Trump kembali memperingatkan Iran tentang perlunya "mengambil proses negosiasi secara serius," seraya mencatat bahwa para wakil Iran "bersikap berbeda": mereka mencari kesepakatan di balik pintu tertutup namun bertindak hati-hati di depan publik. Menurut laporan yang belum terkonfirmasi, Teheran tengah mempertimbangkan proposal 15 poin dari Washington yang bertujuan menghentikan permusuhan; namun sejauh ini belum menunjukkan kesiapan untuk terlibat dalam dialog aktif. Di antara tuntutan Amerika adalah ekspor cadangan uranium dengan kadar pengayaan tinggi dari negara tersebut, pembatasan program misilnya, dan pengurangan dukungan terhadap formasi sekutu di kawasan.
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Pentagon tengah bersiap untuk kemungkinan "serangan terakhir" terhadap Iran, termasuk penggunaan pasukan darat, yang menambah kegelisahan pasar dan mendorong investor untuk menilai ulang aset berisiko.
Faktor negatif tambahan bagi emas adalah laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa Bank Sentral Turki menjual dan menukar sekitar 60 ton emas—senilai lebih dari $8 miliar—dalam waktu dua minggu sejak awal konflik Iran. Langkah-langkah tersebut meningkatkan tekanan pada harga emas, sehingga mendorong aksi ambil untung lebih lanjut di kalangan investor.
Pasar terus memasukkan ke dalam perhitungan skenario inflasi tinggi dan sikap hawkish yang berkelanjutan dari Fed. Jika pada awal tahun para trader masih mengantisipasi setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga, ekspektasi itu berubah secara signifikan setelah pertemuan 18 Maret dan perubahan tajam dalam lanskap geopolitik. Menurut data Prime Market Terminal, pelaku pasar kini mem-pricing kemungkinan pengetatan lebih lanjut oleh Fed sebesar 12 basis poin. Akibatnya, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik delapan basis poin menjadi 4,412%, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Data makroekonomi dari AS tetap relatif stabil: jumlah klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 21 Maret tercatat 210.000, sesuai dengan perkiraan analis dan mendekati angka sebelumnya yaitu 205.000. Hasil ini menegaskan kekuatan pasar tenaga kerja dan memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada pidato sejumlah anggota Federal Reserve—khususnya Lisa Cook, Stephen Miran, Philip Jefferson, Michael Barr, dan Presiden The Dallas Fed Lorie Logan. Komentar mereka berpotensi menentukan arah pergerakan jangka pendek dolar dan ekspektasi suku bunga, sekaligus menjadi latar penting menjelang pidato Trump yang akan datang.
Dari sisi teknikal, emas berbalik arah setelah gagal menembus area $4.550 atau Simple Moving Average (SMA) 100 hari. Indikator osilator masih bernada negatif, namun penting diperhatikan bahwa Relative Strength Index (RSI) mulai mendekati zona oversold, yang mengindikasikan potensi koreksi kecil.
Namun, jika harga logam mulia ini ditutup di bawah level psikologis $4.400, maka level support berikutnya adalah posisi terendah hari Selasa, yang kemudian diikuti oleh posisi terendah hari Senin.
Untuk melanjutkan pergerakan naik, kubu bullish perlu menembus level tertinggi hari Rabu agar dapat kembali ke area $4.500.