
Selama tiga hari berturut-turut, USD/JPY berada di bawah tekanan di tengah harapan akan deeskalasi di Timur Tengah, yang menekan dolar AS. Para pelaku pasar terus menilai kemungkinan Amerika Serikat menarik diri dari konfrontasi dengan Iran dan menunggu sinyal geopolitik baru untuk membentuk dorongan yang lebih jelas.

Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat bermaksud untuk secara signifikan mengurangi aksi militer saat ini terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, dan menurutnya, Teheran tidak perlu menandatangani kesepakatan dengan Washington agar konflik dapat berakhir. Pernyataan ini meningkatkan ekspektasi akan deeskalasi cepat di Timur Tengah dan membantu memperbaiki selera risiko global, yang pada akhirnya melemahkan dolar AS dan membatasi potensi kenaikan USD/JPY.
Dukungan tambahan bagi yen Jepang datang dari survei Bank of Japan yang menunjukkan membaiknya sentimen bisnis di kalangan produsen besar untuk kuartal yang berakhir pada Maret. Indeks utama yang mengukur keyakinan sektor naik menjadi 17, menandai kenaikan selama empat kuartal berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2021. Namun, perwakilan BOJ menyatakan bahwa hasil survei kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan dampak konflik di Timur Tengah.
Pada saat yang sama, laporan bahwa Uni Emirat Arab mendorong intervensi militer untuk memulihkan kelancaran navigasi melalui Selat Hormuz meningkatkan risiko eskalasi kawasan yang lebih luas. Mengingat ketergantungan tinggi Jepang pada impor minyak dari negara-negara Timur Tengah, berlanjutnya kebuntuan dengan Iran meningkatkan kekhawatiran mengenai tekanan ekonomi jangka pendek terhadap Jepang. Ekspektasi semacam ini dapat membebani yen, meskipun asumsi mengenai kemungkinan intervensi otoritas Jepang dapat membatasi besarnya pelemahan.
Secara keseluruhan, latar belakang fundamental yang ambigu menuntut kehati-hatian saat membuka posisi arah pada USD/JPY. Untuk mendapatkan peluang trading yang optimal, fokus sebaiknya diarahkan pada rilis data makro utama AS di awal bulan baru, termasuk laporan ADP private payrolls dan indeks aktivitas manufaktur ISM.
Dari perspektif teknikal, pasangan ini telah bergerak di bawah SMA 20 hari, yang mengindikasikan bahwa bull mulai kehilangan tenaga; meskipun demikian, harga masih bertahan di atas 158,25 dan di atas level 158,00. Jika harga gagal bertahan di atas level-level ini, penurunan berpotensi berakselerasi menuju 157,50. Namun, selama SMA 20 hari masih relevan, target kenaikan berada di 159,70. Dan selama oscillator tetap positif, bull belum siap untuk benar-benar menyerah.