Tidak ada yang lebih buruk daripada menjadi orang luar di sebuah pesta. Investor ritel, yang mendorong S&P 500 ke rekor tertinggi pada 2025 dengan membeli saat harga turun, sebagian besar tersisih selama reli indeks luas pada bulan April. Data dari Vanda Research menunjukkan bahwa investor ritel hanya membeli saham senilai $196 juta dalam satu hari — sekitar 15% saja dari rata-rata aktivitas harian mereka selama setahun terakhir — volume terendah sejak November 2023.
Arus dana ritel ke saham AS

Pendorong reli S&P 500 selama enam hari — yang terpanjang sejak musim gugur lalu — adalah apa yang disebut smart money, yakni investor institusional. Mereka menerapkan taktik TACO (Trump Always Chickens Out) dan berada dalam posisi serba waspada setelah ancaman presiden untuk "menghapus seluruh peradaban." Kalangan profesional memperkirakan ancaman maksimal itu akan diikuti dengan langkah mundur — yang persis itulah yang terjadi, sehingga mengembalikan indeks acuan tersebut ke level tertingginya dalam satu bulan.
Masalahnya, tidak ada jaminan reli S&P 500 akan berlanjut. Pasar sering kali bereaksi dulu lalu mengurai persoalan belakangan. Lonjakan indeks ini sebagian besar mencerminkan smart money yang mengikuti skenario TACO, tetapi sejumlah pertanyaan kunci tetap belum terjawab. Selat Hormuz masih tertutup — kini kurang dari selusin tanker yang melintas dibandingkan 135 sebelum perang. Harga minyak tetap tinggi dan kemungkinan akan bertahan. Bahkan jika arus lalu lintas di jalur utama dunia itu meningkat, tambahan pasokan ke pasar hanya sekitar 2–3 juta barel per hari selama sebulan — sebuah proses yang memakan waktu.
Kinerja S&P 500

Akibatnya, stagflasi di Amerika Serikat bisa benar-benar terjadi, sebuah latar belakang yang sangat tidak menguntungkan bagi pasar saham. Setelah core personal consumption expenditures naik 0,4% pada Februari, ekonom Bloomberg memperkirakan headline CPI akan meningkat sebesar 0,9% m/m pada Maret, menandai kenaikan bulanan tercepat sejak 2022. Ditambah lagi revisi PDB untuk kuartal I dari 0,7% menjadi 0,5%, dan Anda mendapatkan kombinasi pertumbuhan yang melambat bersamaan dengan inflasi yang meningkat — skenario stagflasi yang seharusnya menjadi perhatian bagi S&P 500.

Tak diragukan lagi, Presiden AS Donald Trump terus menopang indeks dengan komentar optimistis tentang pembicaraan dengan Iran dan seruannya agar Israel menghentikan serangan ke Lebanon, yang memberi napas tambahan bagi pasar saham. Namun, bagi para investor, hasil dari dialog tersebut jauh lebih penting daripada retorikanya.
Secara teknikal, grafik harian menunjukkan bahwa S&P 500 sedang dalam proses memulihkan tren naiknya. Para bull telah mendekati resistance pivot kunci di 6.850 yang kini sudah dalam jarak sangat dekat. Tembusnya level tersebut secara meyakinkan akan menjadi alasan yang tepat untuk menambah posisi long yang sebelumnya sudah dibuka pada indeks luas ini. Target tetap berada di 6.890 dan 6.950.