Segala sesuatu punya harga. Namun para investor saham AS sepertinya lupa akan hal itu. Terlepas dari valuasi fundamental yang sudah tinggi dan gelombang baru ketegangan geopolitik, modal terus mengalir ke S&P 500 seolah tidak ada yang berubah.
Bank of America mencatat arus masuk sebesar $119,2 miliar yang belum pernah terjadi sebelumnya ke reksa dana saham AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Juni. Jika diannualisasi, angka tersebut mengarah ke rekor $739 miliar pada 2026, yang akan melampaui semua titik tertinggi sebelumnya. Angka-angka ini memang mengesankan, tetapi menyembunyikan jarak yang makin melebar antara harga dan fundamental.

Imbal hasil berlebih CAPE, yaitu perbedaan antara hasil keuntungan dari S&P 500 dan hasil Treasury 10 tahun, kini telah menyusut menjadi 1,3%. Ini merupakan angka terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Apabila hasil Treasury tidak mengalami penurunan, kondisi valuasi seperti ini dapat menjadi penghalang bagi indeks saham utama secara keseluruhan.
Namun, masalah valuasi yang mengkhawatirkan bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi oleh pasar saham AS. Keresahan para investor dan kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan S&P 500 diperburuk oleh pernyataan Kevin Warsh. Dalam pertemuan FOMC pertamanya, ketua Fed baru ini menekankan berulang kali tentang komitmen yang "kokoh dan jelas" dari Komite untuk menjaga stabilitas harga. Segera setelah itu, investor meningkatkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan moneter. Kini, kemungkinan terjadi dua kali kebijakan pengetatan pada 2026 mencapai 59%, sementara peluang untuk kenaikan suku bunga pada bulan September mencapai 77%. Apakah tidak aneh bahwa seorang pejabat yang diangkat oleh Donald Trump, yang konon bertujuan untuk melonggarkan kebijakan, justru berbicara seperti seorang hawk?
Kekhawatiran terhadap kebijakan moneter bukanlah satu-satunya yang membuat para bulls tidak tenang. Iran mengumumkan bahwa kerangka perjanjian damai di Timur Tengah tidak lagi berlaku setelah pertempuran meletus kembali di Lebanon selatan. Selat Hormuz tetap ditutup, dan harapan akan penurunan cepat harga minyak pun ikut sirna. Untungnya, dengan adanya mediasi dari Qatar dan Pakistan, situasi yang memanas tersebut akhirnya dapat ditenangkan.
Ada perasaan deja vu. Seperti sebelum koreksi pada 2025, ketika sebagian besar pelaku pasar mengabaikan valuasi tinggi di saham teknologi, saat ini pun investor cenderung untuk tidak mengindahkan rasio valuasi yang tinggi atau risiko geopolitik yang ada. FOMO — rasa takut ketinggalan, sering kali mengalahkan insting berhati-hati.

Jika imbal hasil Treasury terus naik seirama dengan retorika hawkish Kevin Warsh, dan jika gencatan senjata terbukti rapuh, arus masuk modal yang memecahkan rekor ini bisa berubah menjadi kekecewaan besar.
Secara teknikal, pada grafik harian, S&P 500 masih berada dalam pola inside bar. Penembusan di atas level tertinggi inside bar di 7.510 akan membenarkan penambahan posisi long pada indeks yang luas ini. Sebaliknya, tembusan yang berhasil di bawah batas bawah inside bar di sekitar 7.470 akan meningkatkan risiko penurunan. Pullback dapat dimanfaatkan untuk membeli pada pantulan dari area support di 7.430, 7.360, dan 7.300.