Harga minyak turun, tetapi tidak demikian dengan saham. Brent ditutup pada level terendah sejak dimulainya perang di Timur Tengah, namun hal itu tetap tidak mencegah S&P 500 melemah. Aksi jual saham-saham teknologi menarik indeks acuan tersebut ke zona merah untuk hari kedua berturut-turut. Tampaknya, deeskalasi yang rapuh dalam konflik tersebut belum mampu menjadi bahan bakar yang cukup kuat bagi pasar saham AS.
Dinamika indeks saham

Ada beberapa alasan yang membuat investor khawatir. Aktivitas manufaktur di AS meningkat ke level tertingginya sejak 2021, yang mengindikasikan kekuatan ekonomi — tetapi hal ini juga meningkatkan keyakinan The Fed akan perlunya pengetatan kebijakan moneter. Pasar futures memperkirakan sekitar 70% kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September. Ekonomi yang kuat merupakan kabar baik bagi laba perusahaan, tetapi kurang baik bagi valuasi saham.
Kekhawatiran seputar artificial intelligence semakin memperburuk keadaan. Sejumlah perusahaan di sektor tersebut mulai menurunkan harga, dan investor kian cemas terhadap besarnya kebutuhan pembiayaan untuk membangun data center. Logikanya sederhana: model AI secara bertahap menjadi komoditas, dan permintaan bergeser ke solusi termurah. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa biaya infrastruktur yang sudah sangat besar — chip, server, listrik — mungkin tidak akan menghasilkan imbal hasil setinggi yang diharapkan investor.
Perkiraan dinamika belanja teknologi

Wall Street sangat bersemangat dengan kenaikan laba perusahaan, tetapi ada satu ganjalan. Analis memperkirakan laba S&P 500 akan tumbuh sekitar 20% untuk kuartal kedua berturut-turut, sebagian besar berkat produsen semikonduktor. Namun, porsi signifikan dari pertumbuhan tersebut sebenarnya hanyalah efek perbedaan waktu dalam pencatatan akuntansi. Ketika NVIDIA menjual chip, perusahaan langsung mengakui pendapatan dan laba saat itu juga, sementara para pelanggannya memperlakukan pembelian tersebut sebagai belanja modal dan menguranginya secara bertahap melalui penyusutan. Hasilnya adalah ketidaksesuaian klasik: penjual membukukan laba sekarang; pembeli membayar selama bertahun-tahun.
Morgan Stanley menyebut periode saat ini sebagai "jendela emas ketika semuanya terlihat bagus," tetapi bank tersebut memperingatkan bahwa gambaran ini bisa segera berubah. Begitu biaya yang ditangguhkan mulai muncul dalam laporan para hyperscaler (penyedia cloud besar), "sulap" akuntansi ini bisa lenyap.

Jika deeskalasi di Timur Tengah dan penurunan harga minyak tidak mampu mengimbangi sikap hawkish The Fed dan keraguan terhadap monetisasi AI, jendela emas tersebut bisa tertutup jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi para bull S&P 500.
Secara teknikal, pola pembalikan 1-2-3 sedang terbentuk pada grafik harian S&P 500. Pola ini akan terkonfirmasi jika level pivot di 7.305 ditembus, yang akan membuka peluang bagi trader untuk menambah posisi short yang sudah ada. Sebaliknya, pantulan dari area support akan menjadi alasan untuk kembali melakukan pembelian pada indeks saham broad tersebut.