Di dunia di mana aplikasi messaging bukan sekadar alat untuk berkomunikasi namun juga cara untuk tetap mengikuti tren terkini, Pavel Durov membangkitkan minat terhadap karyaanya tersebut yaitu Telegram., via wawancara luar biasa yang diberikan kepada Financial Times. Menurut Pavel, calon investor, termasuk berbagai dana teknologi yang siap berinvestasi besar-besaran, menilai messenger tersebut sebesar "$30 miliar dan mungkin lebih." Meskipun kondisi pasar saat ini bergejolak, Durov memutuskan untuk tidak terburu-buru melakukan penjualan. Sebaliknya, ia lebih memilih untuk mempertahankan jalur menuju Penawaran Umum Perdana (IPO) yang direncanakan pada tahun 2025, mungkin untuk memberikan kesempatan kepada semua orang untuk ikut serta, dan memastikan hanya investor paling berani yang berpartisipasi. Di bidang bisnis, Durov dengan yakin menyatakan bahwa dengan diperkenalkannya akun premium dan peluncuran iklan, Telegram mulai memperoleh pendapatan "ratusan juta dolar". Sepertinya Telegram berada di ambang transformasi dari sekedar alat yang populer di kalangan pengguna menjadi bisnis yang benar-benar menguntungkan. “Kami berharap kami dapat menghasilkan keuntungan tahun depan, atau mungkin tahun ini,” kata Durov kepada Financial Times, seraya mengisyaratkan bahwa Telegram tidak hanya akan menghubungkan orang-orang tetapi juga menghasilkan keuntungan yang signifikan.