Rusia meningkatkan pasokan aluminiumnya ke UE sebesar 66% pada Januari 2024. Pengiriman besar-besaran tersebut tidak mengherankan karena aluminium belum termasuk dalam sanksi anti-Rusia. Namun, para ahli memperkirakan kemungkinan aluminium dan paduannya akan segera dibahas di meja perundingan anggota parlemen UE. Mengantisipasi langkah ini, Rusia mengekspor 26.253 ton logam ke UE dengan nilai €59,3 juta.
Pakar komoditas, Sergei Grishunin, mengakui bahwa pembeli di Eropa memutuskan untuk menimbun persediaan mereka sebelum Brussels memberlakukan larangan penuh terhadap impor aluminium dalam paket sanksi berikutnya.
Tiongkok merupakan pemasok utama logam dan paduannya yang potensial ke Eropa. Memang benar, pabrik-pabrik aluminium telah bermunculan di seluruh negeri. Pabrik baru di Tiongkok dirancang dengan kapasitas peleburan minimal 800.000 ton per tahun. Selain itu, industri Tiongkok dapat menggunakan tambahan 4 juta ton kapasitas produksi cadangan per tahun. Namun, Beijing akan mampu menyediakan hasil produksi tersebut dengan syarat penggunaan batu bara dalam jumlah besar. Masalahnya, kota-kota besar di Tiongkok enggan menggunakan fasilitas batubara.
Sementara itu, legislator Eropa ragu-ragu untuk memperketat sanksi anti-Rusia, yang menargetkan eksportir aluminium Rusia karena sumber alternatifnya masih dipertanyakan.