Minggu ini, pasar obligasi sangat bullish. Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik menjadi 4,64%, level tertinggi dalam sebulan! Di sisi lain, para pakar memperingatkan bahwa tren naik yang stabil di pasar obligasi dapat menghambat rally saham.
Lazim diketahui bahwa saham dan obligasi memiliki korelasi yang berbanding terbalik. Pada bulan April tahun ini, kenaikan yield obligasi yang signifikan menyebabkan penurunan harga pasar saham. Namun, saham-saham mengalami rebound tajam setelah dirilisnya laporan inflasi karena tekanan inflasi di AS telah melemah. Sementara itu, para petinggi Federal Reserve memberikan petunjuk bahwa mereka tidak terburu-buru untuk kembali menaikkan suku bunga.
Saat ini, beberapa faktor fundamental berperan menyebabkan pertumbuhan yield obligasi berlanjut. Kondisi tersebut termasuk perekonomian AS yang sehat dan niat Federal Reserve untuk menunggu sebelum menurunkan suku bunga.
Selain itu, yield obligasi naik di tengah kekhawatiran akan meningkatnya defisit anggaran AS dan lemahnya lelang obligasi Treasury. Beberapa analis memperkirakan bahwa pasar saham kemungkinan akan segera mengalami volatilitas tinggi jika yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 4,7%. Saat ini, kenaikan yield tidak mengkhawatirkan pasar, padahal level di atas 4,7% dapat memengaruhi hasil investasi secara signifikan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kenaikan yield menyebabkan biaya pinjaman yang lebih tinggi bagi konsumen dan dunia usaha. Para ahli menjelaskan bahwa hal ini mengurangi laba perusahaan. Selain itu, kenaikan yield menciptakan persaingan investasi yang lebih besar bagi saham karena obligasi Treasury dianggap sebagai aset yang kurang berisiko.