Menurut para analis World Gold Council (WGC), cryptocurrency pertama ini tidak dapat merengkuh gelar sebagai emas digital.
Crash pasar saham yang masif pada awal Agustus, yang banyak dibandingkan dengan Black Monday pada 1987, memaksa para investor merevisi portofolio mereka. Para pelaku pasar juga menganalisis ketahanan aset-aset mereka dalam kondisi pasar yang ekstrim. Terhadap latar belakang ini, para trader mulai menggunakan cryptocurrency, khususnya Bitcoin, sebagai 'pelindung terhadap inflasi" atau sebagai alat menyimpan modal. Namun, para pejabat World Gold Council tidak sepakat dengan gagasan ini.
WGC menekankan bahwa sebagian pelaku pasar menyebut Bitcoin sebagai "emas digital", tapi ini tidak benar. Tidak heran jika banyak peneliti menantang pernyataan ini dan menyatakannya salah.
Organisasi tersebut mempelajari dinamika berbagai kelas aset fundamental selama 10 tahun terakhir. Para ahli menunjukkan mengapa Bitcoin tidak dapat dianggap sebagai "emas yang baru". Rintangan utamanya adalah volatilitas Bitcoin. Sebagai contoh, rata-rata volatilitas harian emas selama lima tahun terakhir kurang dari 20%, sementara Bitcoin, 60%. Pada 2024, volatilitas mingguan kedua aset masing-masing mencapai 13,83% dan 53,62%.
"Sederhananya, emas dan bitcoin berada pada ujung spektrum volatilitas yang berlawanan. Pada skala lima tahun, data menunjukkan gambaran yang lebih jelas: volatilitas emas lebih kecil," catat WGC.
Terlebih, emas selama beberapa dekade telah menjadi aset safe-haven yang dipercayai oleh bank-bank sentral.
Sementara untuk cryptocurrency pertama, para ahli WGC menganggapnya sebagai indikator penerapan teknologi blockchain dan bukan alat penyimpanan modal. Selain itu, dinamika BTC mencerminkan saham-saham teknologi yang juga menunjukkan volatilitas tinggi.
Organisasi itu juga membandingkan korelasi antara dua aset tersebut dan menyimpulkan bahwa Bitcoin dan emas dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda.
"Pada masa meningkatnya tekanan dalam kondisi pasar, emas memberikan dampak yang unik pada portofolio terdiversifikasi. Dengan melihat data year to date dan rata-rata selama lima tahun terakhir, performa emas menunjukkan korelasi positif di pasar naik dan korelasi negatif di pasar menurun," tambah para analis.
WGC menyoroti meningkatnya peran emas sebagai aset safe haven sejak awal konflik Rusia-Ukraina. Hal ini mengonfirmasi bahwa emas diakui dunia sebagai alat untuk melindungi investor dari ancaman risiko.
Para ahli juga membandingkan logam mulia dan BTC dari segi return mereka, dengan mempertimbangkan tingkat risiko terkait dengan investasi tersebut. WGC mencontohkan pengaruh menambahkan emas ke portofolio dengan alokasi dari 2,5% menjadi 10% dan menyimpulkan bahwa emas mengurangi volatilitas dan meningkatkan return. Namun, situasi dengan Bitcoin sebaliknya -- makin besar bagiannya dalam portofolio, makin tinggi risikonya.
"Penting untuk diingat bahwa untuk benar-benar menjadi aset safe haven, performa yang tepat selama penurunan pasar yang signifikan adalah kunci. Yang dapat anda pelajari adalah begitu terbentuk, bitcoin belum menunjukkan karakteristik yang sama seperti emas di masa kritis tersebut. Ketika anda mengharapkan proteksi terhadap pergerakan pasar yang signifikan, bitcoin justru melacak aset risiko," para ahli menyimpulkan.
Menurut para spesialis, menambahkan emas ke dalam portofolio investasi "memberikan diversifikasi, sementara bitcoion tidak menawarkan diversifikasi tulus apapun: penambahan bitcoin sama seperti meningkatkan eksposur pada ekuitas berisiko tinggi."
Organisasi itu menekankan bahwa emas dan Bitcoin adalah aset yang berbeda dengan karakteristik unik dan risiko investasi. Meskipun Bitcoin menawarkan beberapa keunggulan tertentu dalam diversifikasi portofolio, investasi ini tidak sama dengan berinvestasi dalam emas dan tidak akan menggantikan logam mulia.