Arab Saudi berniat untuk menahan harga minyak di level 100 USD per barel, menteri perminyakkan Ali Al-Naimi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNN. Menurut Ali al-Naimi, di negara tersebut harga minyak dianggap optimal untuk peserta pasar.
Menteri perminyakan mencatat bahwa saat ini Arab Saudi memproduksi 9,4-9,8 juta barel setiap 24 jam, sementara cukup mampu menghasilkan 12,5 juta barel. Dia menambahkan bahwa Arab Saudi bahkan mampu mengimbangi minyak yang diekstrak oleh Iran 2,2 juta barel per hari.
Selain itu, Ali Al-Naimi menunjukkan keraguan mengenai kemampuan Iran untuk menutup selat strategis Hormuz. Tehran mengancam untuk memblok selat jika batas perdagangan dibebankan pada ekspor minyak. Selat merupakan satu-satunya saluran ekspor minyak dari negara pada teluk Persia. Ekspor Arab Saudi sekitar 10 juta barel per hari melalui selat Hormuz.
Arab Saudi dan negara OPEC lainnya mengetahui bahwa harga minyak yang berkembang mungkin akan membawa penurunan permintaan yang akan menghasilkan turnnya harga. Situasi seperti ini terjadi di tahun 2008.
Harga hidrokarbon juga dapat naik karena sanksi Uni Eropa terhadap Iran. Uni Eropa merencanakan untuk melarang pembelian minyak pada Republik Islam Iran untuk menhindari laju dana ke negara untuk pendanaan program nuklir.
Tehran telah mengingatkan negara OPEC terhadap naiknya volume produksi minyak dalam hal batas perdagangan. Gurbernur OPEC Iran Mohammad Ali Khatibi meminta eksportir minyak untuk tidak bekerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika.
Di musim semi 2011, pangeran Alwaleed mengakui bahwa harga minyak 70-80 USD per barel adalah yang paling cocok untuk Arab Saudi. Dia mengatakan bahwa harga dalam pelarangan yang tersebut diatas akan menjadi yang terbaik dan akan mendukung energi alternatif.
FX.co ★ Arab Saudi akan menahan harga minyak pada 100 USD
Humor Forex:::