Pada 8 April 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan dimulainya "era keemasan" bagi Timur Tengah di platform media sosial Truth Social. Sang presiden menyatakan keyakinannya akan potensi pemulihan skala besar di Iran setelah berakhirnya permusuhan militer aktif.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu tercapai antara Washington dan Teheran. Pemerintah Pakistan memfasilitasi negosiasi, bertindak sebagai mediator untuk mengoordinasikan upaya antara kedua pihak dalam persiapan perjanjian perdamaian jangka panjang.
Trump menekankan bahwa Amerika Serikat bermaksud untuk membantu membersihkan penumpukan kapal tanker di Selat Hormuz untuk memulihkan jalur perdagangan global. Pemerintahannya berencana untuk meningkatkan ekspor barang industri ke wilayah tersebut sambil mempertahankan kehadiran untuk mengawasi kepatuhan terhadap ketentuan gencatan senjata.
Teheran mengajukan program sepuluh poin, yang diakui Gedung Putih sebagai platform yang wajar untuk konsultasi di Islamabad. Perjanjian tersebut mencakup dimulainya kembali pengiriman yang aman di sepanjang jalur yang menyumbang 20% dari pasokan hidrokarbon global.
Sebelumnya, pada 21 Maret 2026, Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan pesan kepada kepemimpinan Iran, menyatakan harapan untuk mengatasi tantangan saat ini. Menstabilkan situasi di Teluk Persia dipandang sebagai faktor kunci dalam mengurangi volatilitas di pasar energi dan meredakan tekanan inflasi.