Harga bahan bakar bensin dan diesel di stasiun pengisian bahan bakar di seluruh Uni Eropa melonjak tak terduga pada akhir Maret 2026 akibat eskalasi konflik militer di Iran. Eurostat melaporkan memburuknya krisis energi di kawasan ini, dipicu gangguan signifikan pasokan produk minyak dari pasar Timur Tengah.
Kenaikan harga bensin paling menonjol, berkisar 14–15%, tercatat di Belgia, Swedia, Austria, Republik Ceko, Estonia, dan Lithuania — level tertinggi sejak awal permusuhan di Ukraina. Pada segmen diesel, Republik Ceko dan Swedia memimpin dengan lonjakan 27,6% hanya dalam sebulan. Kenaikan signifikan juga tercatat di Estonia (26,8%), Latvia (25,4%), serta Belgia dan Belanda (25,2%). Tren ini diakibatkan oleh penurunan tajam pasokan minyak mentah ke pasar Eropa akibat ketidakstabilan di wilayah penghasil hidrokarbon utama.
Faktor krusial dalam kelangkaan sumber daya ini adalah pemblokiran Selat Hormuz oleh pasukan Iran, jalur logistik utama untuk pengangkutan crude. Pembatasan pergerakan kapal telah menyebabkan penurunan ekspor kerosin aviasi (aviation kerosene), yang langsung mengancam operasional penerbangan sipil di Eropa. Fatih Birol, kepala International Energy Agency (IEA), menilai risiko yang potensial terhadap sektor transportasi dan memperingatkan bahwa bandara‑bandara besar Eropa bisa menghadapi pembatalan penerbangan massal pada awal musim panas jika pasokan tetap terblokir. Kondisi krisis yang berkepanjangan bisa memaksa beberapa negara anggota menerapkan rasio konsumsi bahan bakar.