Para produsen mobil Eropa membuka pameran otomotif Paris dengan perasaan sangat lega, menyusul kesepakatan sementara antara Uni Eropa dan Tiongkok yang secara drastis membatasi ekspor kendaraan hibrida Tiongkok ke Eropa—mengurangi volumenya hingga lebih dari separuh.
Bagi Volkswagen, Stellantis, dan Renault, kesepakatan ini menjadi penyelamat. Kondisi keuangan raksasa otomotif benua tersebut memburuk dengan cepat: penjualan Mercedes-Benz turun 8% pada kuartal ketiga, sementara Volkswagen dan BMW memperingatkan adanya penurunan laba yang tajam. Sebaliknya, merek-merek asal Tiongkok justru melesat; mereka telah mengirimkan sekitar 770.000 kendaraan ke Uni Eropa dalam delapan bulan pertama tahun ini dan menguasai hampir 12% pasar Eropa.
Di pameran yang berlangsung di "kandang" mereka sendiri, para produsen Eropa berupaya keras untuk menunjukkan kesiapan dalam menghadapi persaingan. Dacia mempromosikan mobil listrik (EV) terjangkau, Spring, dengan harga di bawah €18.000, sementara Volkswagen memperkenalkan model ID. Tiguan yang benar-benar baru. Ironi terlihat jelas di stan Stellantis, yang memamerkan konsep mobil listrik Citroen yang secara terbuka dibangun menggunakan teknologi dari mitra Tiongkok mereka, Leapmotor. Merek-merek Tiongkok seperti BYD, XPeng, dan Zeekr juga hadir di Paris dengan jajaran produk yang lebih luas, menandakan bahwa mereka tidak berniat untuk menyerahkan pangsa pasar yang telah mereka raih.
Kelonggaran sementara terkait impor ini tidak menyelesaikan masalah yang lebih mendasar dalam industri tersebut. Eropa masih sangat bergantung pada Tiongkok untuk rantai pasok logam tanah jarang (rare earths) dan material baterai. Pihak Uni Eropa pun telah mulai menyusun aturan yang lebih ketat, yang nantinya akan mewajibkan kendaraan yang dijual di kawasan tersebut untuk dirakit terutama menggunakan komponen yang berasal dari Eropa.