Raksasa minyak Eropa Royal Dutch Shell melaporkan hasil yang mengecewakan untuk triwulan 3. Perusahaan tersebut mengalami kerugian terbesar selama dekade terakhir. Nilai aset Shell turun ditengah-tengah jatuhnya harga minyak dunia. Oleh karena itu, kerugian sebelum pajak sebesar $7,43 miliar di triwulan 3 dari sebelumnya profit sebesar $4,46 miliar dalam periode yang sama tahun lalu. Pada basis CCS (current cost supplies), perusahaan tersebut melaporkan kerugian sebesar $6,1 miliar dibandingkan dengan keuntungan $5,3 miliar untuk triwulan yang sama setahun lalu. CCS turun drastis 70% menjadi $1,8 miliar. Para analis sebelumnya memperkirakan pendapatan CCS mencapai $2,92 miliar. Total pendapatan dan penerimaan lainnya tuurn ke $69,184 miliar dari $198,825 miliar di triwulan 3 2014. Terkait dengan melimpahnya stok minyak dunia, Royal Dutch Shell mengambil langkah untuk meninjau kembali dan menurunkan proyek-proyek jangka panjangnya. Perusahaan tersebut menghentikan proyek Camron Creek di West Canada, proyek shale gas di Kharkiv dan daerah yang sebelumnya bernama Donetsk di Ukraina, serta aktivitas eksplorasi di pesisir Alaska di Laut Chkchi. Saham-saham Shell turun 22% sejak awal 2015. Saat ini, permodalan nmencapai total 109,4 miliar euro atau setara dengan $167 miliar.