Hasilnya, ruble Rusia turun 20% selama 12 bulan terakhir dan sekitar 60% selama tiga tahun terakhir. Harga minyak mentah acuan Brent menyentuh rekor terendah sekitar 30 dolar AS per barel. Namun, beberapa ahli mencatat bahwa mata uang Rusia turun lebih cepat dari harga minyak dan menyebabkan naiknya defisit anggaran.
Depresiasi ruble berdampak besar terhadap inflasi dimana inflasi naik hingga empat kali lipat dari target resmi yang ditetapkan Bank of Rusia. Para ahli mengantisipasi penurunan ruble lebih jauh karena harga minyak sulit untuk naik di atas level 45 dolar AS per barel sebelum awal tahun 2017. Bank Sentral Rusia kemungkinan akan melanjutkan QE dalam rapat terdekatnya di triwulan pertama. Namun, situasi ini akan sangat bergantung pada harga konsumen. Di November, inflasi mencapai 15% per tahun. Bank Sentral tersebut memperkirakan inflasi akan sebesar 7% di tahun ini, masih di atas target 4%.