Pemilihan kembali Obama memicu respon negatif pada pasar saham. Peserta pasar lebih mengharapkan bahwa presiden AS yang baru tidak keras terhadap kebijakkan moneter dan menjalankan hubungan yang erat dengan Gedung Putih. Karena terpilihnya kembali sebagai presiden, ia berasosiasi dengan kebijakkan ekonomi yang cukup agresif. Kenaikkan pajak dan regulasi yang lebih kuat terlihat menakutkan bagi para investor Amerika.
Selama perdagangan hari Rabu, saham Amerika dan Jp Morgan Chase & Co. turun 5,6% dan Apple turun 3,8% setelah harga turun 21% di September. Sekuritas Peabody Energy dan Alpha Natural Resources turun lebih dari 9,6%. Sementara itu, masa jabatan kedua Obama berarti penguatan lebih lanjut untuk regulasi tambang batu bara.
Investor Amerika juga mempertimbangkan mengenai tebing fiskal yang akan datang, pemerintah AS akan menghadapi kenaikkan pajak gabungan 2013 dan potongan pengeluaran. Jika pajak ditingkatkan (pajak dividen akan naik dari 15% menjadi 43,4%), omset perusahaan akan turun dan juga investasi. "Dengan pemerintah federal yang dipertentangkan, kami melihat sedikit alasan untuk meningkatkan kemungkinan menghindari tebing fiskal," ujar Barry Knapp, kepala perencana ekuitas AS di Barclays Capital.
Yang lebih pentin glagi, negara juga berada dalam masalah karna hutang publik yang amat besar.
Seraya kebutuhan finansial AS yang terus berkembang, negara kembali mendekati batas hutangnya. Para ahli mengkhawatirkan bahwa hutang publik yang terus naik akan memicu resiko kebangkrutan. Jika batas hutang ditingkatkan lebih tinggi, peringkat kredit AS yang telah dipotong pada Agustus 2011 akan dipotong lebih jauh lagi.
Kemenangan Barack Obama di 2012 bersamaan denagn turunnya saham AS sebanyak 2,5% dan penurunan paling dramatis Dow Jones dalam satu tahun. Selain itu, harga untuk emas hitang turun sekitar 5%. Krisis Eropa telah memicu hal ini.
FX.co ★ Obama tidak disambut di pasar saham AS
Humor Forex:::