Perlu dicatat bahwa dolar Hong Kong mengikuti mata uang AS sehingga belum ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, perkembangan saat ini memicu reaksi tertentu dari pasar. Trader memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, bank sentral harus memutus ketergantungan mata uang Hong Kong terhadap dolar AS. Upaya PBOC untuk menstabilkan kurs mata uangnya tidak menghasilkan pengaruh yang diharapkan. Saat ekspektasi devaluasi meningkat, mayoritas saham di kawasan Asia Pasifik trading di zona merah.
Para investor mulai mengambil uangnya atau memilih aset-aset yang jauh dari risiko seperti obligasi pemerintah Tiongkok. Ahli strategi global di Societe Generale Albert Edwards mengatakan bahwa depresiasi yuan dan jatuhnya saham Tiongkok akan mendorong pasar saham AS memasuki wilayah koreksi. Hasilnya, S&P 500 akan turun 75 persen. Para ahli yakin bahwa Federal Reserve AS dan bank sentral lainnya 'telah menciptakan kondisi krisis'. Menurut Edwards, jika regulator tidak segera mengambil tindakan, pasar global akan memasuki resesi ' seperti krisis keuangan global 2008.'