Situasi juga didorong oleh pimpinan Komite Urusan Internasional Rusia Konstantin Kosachev. Ia mengatakan bahwa terdapat kemungkinan terjadinya perang Rusia-Turki. Kebijakan agresif Turki terkait dengan Suriah bisa memicu perang dengan Rusia. Kosachev mengatakan bahwa Turki tidak akan memiliki dukungan dari negara Barat. Selain itu, ia menambahkan bahwa terdapat resiko potensi perang dengan Iran dan bahkan lebih buruk, dengan Rusia yang telah terbukti kekuasaan dan kemampuan untuk memanfaatkannya.
Oleh karena itu, spread antara yield obligasi Turki dan obligasi AS mencapai level tertinggi yang terakhir diamati bulan September, 2015. Selain itu, yield obligasi dua tahun mencapai hampor di ketinggian 3 minggu. Diwaktu yang sama, lira Turki turun 0,7% melawan dolar.