Perdana Menteri Rusia terkenal dengan kemampuannya untuk membuat kuping rakyatnya memerah dan mengalihkan perhatian dari isu-isu genting. Dmitriy Medvedev berharap para pensiunan Crimea tetap dalam suasana hati yang baik saat ia berbicara mengenai ketidakmampuan pemerintahannya untuk mengalokasikan dana pensiun sebagai kompensansi inflasi yang tinggi.
Baru-baru ini, Medvedev membuat sebuah pernyataan di TV bahwa pendapatan fiskal dari ekspor minyak dan gas menurun. Namun, ia dapat mengambil hikmah dari situasi tersebut. Dengan mengutip Medvedev, penurunan drastis pendapatan fiskal berarti bahwa anggaran publik telah mengatasi kebergantungannya pada ekspor energi. "Kini, dua pertiga atau hampir 65% pendapatan anggaran federal berasal dari sektor non-energi," PM Rusia menyatakan. Selain itu, ia mengingatkan bahwa penjualan minyak dan gas menghasilkan pendapatan fiskal sebesar 45% tahun lalu.
Rusia jelas membutuhkan pemangku kebijakan yang selalu berkata positif. Negara tersebut menyusun anggaran berdasarkan rata-rata harga minyak Ural, campuran minyak yang diekspor, dengan harga minyak global $50 per barel di 2016 telah stabil. Optimisme datang setelah harga minyak naik lebih dari 85% sejak menyentuh titik terendah selama 12 tahun di Februari. Tahun ini, anggaran defisit diperkirakan mencapai 2,36 triliun ruble, atau 3% GDP. Sementara itu, utang publik Rusia turun $350 juta, yang mengejutkan rakyat Rusia. Kini, utang luar negeri mencapai 10,5 triliun ruble, salah satu yang terendah di dunia.
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, merupakan regulator lainnya yang merasa optimis dalam kabinet menteri RUsia. Baru-baru ini, ia mengumumkan berita yang menggembirakan: ruble tidak lagi mengikuti harga minyak. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa mata uang Rusia menguat ke 30 terhadap dolar AS dan 40 terhadap euro. Siluanov menjelaskan bahwa kini ada faktor lain yang mempengaruhi kurs mata uang ruble. Sementara itu, ekonomi eksportir energi terbesar dunia tersebut memasuki tahun kedua resesi.