Pada Mei 2016, harga konsumen Jepang melanjutkan penurunan dan belanja rumah tangga kembali turun. Situasi ini mendorong BoJ mengambil langkah tambahan untuk menstabilkan inflasi.
Harga konsumen inti Jepang diluar harga makanan segar turun 0,4% per tahun di Mei selama tiga bulan berturut-turut, terutama karena harga minyak mentah yang lebih rendah. Angka indeks sesuai dengan estimasi para ekonom.
Rata-rata pengeluaran rumah tangga di Jepang turun 1,1% per tahun di Mei. Rumah tangga melakukan pengeluaran lebih kecil untuk pendidikan, perumahan dan traveling. Para analis mencatat bawha angka indeks menunjukkan bahwa strategi PM Shinzo Abe untuk memulihkan ekonomi Jepang terbukti tidak efektif.
Menurut Abe, inflasi sangatlah penting untuk pertumbuhan ekonomi. Para ekonom mengatakan inflasi dapat membantu menurunkan utang publik Jepang yang jumlahnya terbesar diantara negara-negara maju.
Bank sentral Jepang mengatakan bahwa mencapai target inflasi 2 persen hingga Maret 2018 tidaklah mungkin. Ini bukan pertama kali Abe memundurkan waktu pencapaian target inflasi. Bahkan setelah BoJ memperkenalan suku bunga negatif di Januari, harga-harga tetap turun.
Rapat BoJ selanjutnya akan dilakukan pada 28-29 Juli. Sebagian ekonom dalam survei bulan Juni yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang memperkirakan bahwa BoJ akan terus memperlonggar kebijakan moneter yang sudah sangat longgar bulan Juli.