Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyuarakan keprihatinannya terhadap kekuatan ruble yang dianggap para pembuat kebijakan sebagai pesan untuk pemerintah. Menurut sumber resmi, pemerintah tidak tertarik pada nilai mata uang yang menguat. Bangsa Rusia telah meningkatkan kesadaran mereka terhadap kondisi finansial, dan saat ini telah menyadari mengapa pengeluaran publik dan pemerintah mengambil keuntungan dari nilai mata uang yang melemah. Sumber daya alam, khususnya minyak mentah, dijual ke negara lain dalam harga dolar A.S. Bagian dari pendapatan fiskal berupa dolar di ubah menjadi ruble yang kemudian digunakan untuk membayar upah dan gaji. Jadi, manfaat untuk pemerintah terlihat jelas. Anggaran pendapatan yang stabil lebih penting dari pengeluaran publik, yang mana bahkan lebih menyusut karena jumlah yang sama dalam dolar dapat dikeluarkan untuk membeli dua kali lipat lebih besar jumlah dalam ruble.
Di tahun 2014, ruble kehilangan hampir setengah nilainya terhadap dolar AS ditengah-tengah harga minyak yang melemah dan sanksi ekonomi dari negara Barat yang dibebankan ke Rusia. Namun demikian, dunia global memberikan angin pada mata uang Rusia yang mulai "ditaksir terlalu tinggi" dalam beberapa minggu belakangan ini yang kemudian menyulitkan para pengekspor dalam negeri. Oleh karena itu, Vladimir Putin, memerintahkan kepada pemerintah untuk mengembangkan sebuah paket berisi langkah untuk mengurangi risiko dari kenaikan ruble. Pemimpin Rusia tersebut menekankan bahwa taksiran yang terlalu tinggi pada ruble merupakan sebuah ancaman untuk sebagian besar sektor pada perekonomian domestik. Beberapa sektor mungkin tidak akan mampu untuk menghadapi krisis dibalik menguatnya ruble. Jadi, Presiden mendorong pemerintah untuk kembali merencanakan anggaran negara dalam jangka tiga tahun..