Baru-baru ini, harga minyak turun lebih dari 5% hanya dalam beberapa jam. Yang menarik, alasan penurunan bukanlah laporan mengenai pembekuan produksi minyak, namun Presiden Federal Reserve Boston, Eric Rosengren, yang menyerukan kenaikan suku bunga.
Tidak diketahui alasan trader bereaksi sedemikian rupa terhadap kata-kata dari Rosengren, namun faktanya dolar langsung naik terhadap mata uang utama lainnya, sehingga memicu penurunan saham, harga minyak dan aset-aset berisiko lainnya.
Para analis menghubungkan reaksi trader tersebut dengan fakta bahwa Presiden Fed Boston yang sebelumnya menganut kebijakan moneter yang dovish, namun secara tiba-tiba berubah menjadi hawkish. Hal ini tidaklah mengejutkan karena pasar tidak berperilaku sesuai dengan kebutuhan otoritas moneter. Kali ini, Rosengren menjadi pemicu pasar. Namun, beberapa waktu setelahnya pasar dibebani oleh statistik dari Baker Hugher. Perusahaan minyak tersebut melaporkan jumlah mesin penggali minyak yang aktif di AS naik 7 menjadi 414 unit di pekan lalu.
Ini adalah kenaikan mesin penggali minyak yang aktif di AS selama 11 pekan berturut-turut. Hasilnya, dolar turun terhadap mata uang utama lainnya.