Optimisme terkait masa depan sektor keuangan Inggris mulai memudar. Meskipun London masih menjadi salah satu pusat keuangan dunia, survei yang diadakan diantara CEO-CEO internasional mengindikasikan bahwa sentimen tersebut telah memudar. Mulai Juli hingga September, kepercayaan bisnis melemah untuk kuartal ketiga berturut-turut. Yang lebih penting, penurunan yang berkelanjutan seperti itu terakhir kali terjadi pada 2009. Menurut CBI dan PwC, lebih dari setengah dari 115 perusahaan yang disurvei mengindikasikan bahwa Brexit mempengaruhi sektor keuangan secara negatif, dan hanya 12 perusahaan yang berpendapat positif terkait dampak keputusan Inggris untuk meninggalkan UE. "Dengan perusahaan-perusahaan yang menyuarakan kekhawatiran mereka terkait dampak Brexit, khususnya resiko terhadap ekonomi secara umum pada tahun-tahun mendatang, pemerintah harus meredakan keadaan dengan mempersiapkan rencana yang jelas untuk negosiasi keluarnya dari UE," kata Rain Newton-Smith, ekonom kepala CBI.
Para responden meyakini salah satu masalah utama adalah hilangnya "paspor" mereka. Dokumen ini memungkinkan perusahaan-perusahaan Inggris untuk beroperasi di seluruh zona mata uang euro dibawah persyaratan umum. Setelah referendum, persyaratan baru terkait pekerjaan di teritori UE harus disepakati. Perusahaan-perusahaan keuangan tidak yakin bahwa "paspor" tersebut akan tetap sama. "Di Lloyd's kami sangat berkeyakinan bahwa mempertahankan akses menuju pasar tunggal UE sangat penting, bukan hanya untuk Lloyd's, namun juga untuk Kota London secara umum," kata ketua Lloyd's, John Nelson.
Kecuali masalah ini diselesaikan secepatnya, Inggris kemungkinan akan kehilangan predikatnya sebagai pusat keuangan global.