Ruble Rusia memulai tahun baru dengan sebuah lonjakan. Awal yang dinamis memungkinkan ruble menjadi salah satu di urutan tiga teratas dari mata uang global. Pergerakan mata uang di 2017 menunjukkan bahwa ruble dapat dengan mudah bersaing dengan mata uang utama lainnya.
Bersamaan dengan ruble, dolar Australia dan peso Kolombia juga menunjukkan hasil positif. Tentunya, jika salah satu mata uang naik, mata uang lainnya turun. Oleh karena itu, lira Turki, peso Meksiko dan pound Inggris mengalami penurunan. Keith Jax, seorang analis di Societe Generale, menyatakan bahwa mata uang ini telah turun karena situasi politik yang tidak stabil di negaranya. Politik otoriter Erdogan, Brexit, dan kemenangan Donald Trump adalah alasan utama bagi penurunan tajam dari lira, pound dan peso. Selain itu, Kepresidenan Trump dan kenaikan harga minyak menguntungkan bagi ruble Rusia. Jika presiden AS yang baru secara bertahap mulai mengangkat sangsi terhadap Rusia, seperti yang telah dijanjikannya, ruble akan naik lebih pesat.
Sebelumnya, beberapa analis independen telah mengakui ruble sebagai mata uang paling atraktif untuk investasi mata uang di dunia. Terdapat kasus kuat: ruble naik 22 persen di 2016, selain itu, Gubernur Bank sentral Rusia Elvira Nabiullina menyatakan bahwa ruble tidak lagi sensitif terhadap perubahan harga minyak.