Donald Trump belum lagi sepekan menjabat sebagai Presiden AS yang baru, namun ia telah berusaha untuk menghapus jejak pendahulunya. Proyek perdagangan utama yang dibangun oleh Barack Obama, Trans-Pacific Partnership (TPP), merupakan yang pertama dibatalkan oleh Trump, terlepas dari fakta bahwa pemerintahan sebelumnya bekerja keras untuk menghidupkan TPP.
Presiden AS yang baru tersebut memilih untuk meninggalkan kerjasama tersebut secara sepihak. Selama masa kampanye, sang kandidat dari Partai Republik tersebut mengatakan berulang kali bahwa Amerika Serikat akan lebih banyak menderita kerugian daripada mendapatkan keuntungan dari TPP. Sang presiden baru segera melaksanakan janji-janjinya tanpa ragu, dan menurut pemerintahan Trump, ia tidak hanya akan berhenti pada TPP. Trump meyakini bahwa Obama kurang memperhatikan isu-isu ekonomi, dan ekonomi AS melambat secara signifikan selama masa jabatan Obama. Sementara itu, sang "ekonom jenius" tersebut tampaknya lupa bahwa Obama mengambil alih kursi kepresidenan di tengah krisis keuangan global dan tidak hanya mengeluarkan AS dari kejatuhan ekonomi yang dalam, namun juga berhasil mencapai pertumbuhan yang stabil. Namun, para populis seperti Trump biasanya tidak akan memperdulikan pencapaian seperti itu, mereka hanya tertarik untuk mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bombatis dan janji-janji yang indah. Itu sebabnya, Trump menyebut penghentian proyek-proyek Obama sebagai akhir dari penggunaan anggaran yang tak masuk akal.
Kemitraan Trans-Pasifik tersebut telah menjadi korban pertama kebijakan presiden baru tersebut. TPP seharusnya akan menjadi zona perdagangan bebas diantara 12 negara di kawasan Asia-Pasifik, yang membentuk sekitar 40 persen dari Produk Domestik Bruto (GDP) secara global.