Bahkan sebelum pandemi virus corona, lira Turki benar-benar lemah. Selama beberapa tahun terakhir, mata uang ini telah menyentuh rekor terendah baru satuu dem satu. Alasan utamanya adalah kebijakan moneter yang ditreapkan oleh Presiden Recep Erdogan yang meyakini bahwa ia adalah pengelola keuangan berbakat.
Tentu saja, wabah virus corona telah menyebabkan penurunan lira yang lebih cepat. Sejak awal tahun ini, mata uang nasional Turki ini terjun bebas hingga 20% terhadap dolar AS yang diperdagangkan di 7,5 lira untuk satu dolar AS. Tiga tahun lalu, nilai tukarnya dua kali lebih rendah. Namun, Recep Erdoğan berhasil mendevaluasi mata uang nasionalnya lebih dari dua kali lipat ke 7,7 dari 3,5 per dolar AS. Yang menarik, 7,5 adalah level psikologis untuk lira. Jika level ini ditembus, maka akan menjadi sinyal yang kuat untuk kemerosotan lebih jauh. Para ekonom menduga bahwa lira dapat menembus level 8 lira per dolar dalam waktu dekat. Sebelumnya, perkiraan seperti ini terdengar berlebihan. "Modal asing terus mengalir keluar dari Turki tanpa aliran masuk yang baru," Yalcin Karatepe, akademisi dan ahli ekonom dari Ankara University, mengatakan. "Gelombang kenaikan harga yang baru akan datang dan tingkat pengangguran akan terus naik," tambahnya.
Pada waktu yang sama, Fed AS berupaya memperkuat greenback. Dengan demikian, regulator tersebut memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level yang sama. Di bawah kondisi saat ini, ini dapat dianggap sebagai pengetatan kebijakan moneter. Turki juga telah melaporkan tingginya jumlah kasus infeksi baru yang mengancam ekonomi negara dan membuat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan yang baru.