Perekonomian yang terencana memiliki satu kelemahan besar. Seringkali, hasilnya mungkin tidak akurat dan tidak dapat diandalkan karena alasan politik. Jika pemerintah memerintahkan untuk menampilkan indikator saat ini lebih baik dari yang sebenarnya, itu akan dilakukan dengan tepat. Yang terpenting, Cina memiliki jenis ekonomi seperti itu dan lebih dari sekali, telah tertangkap memalsukan angka-angka ekonomi.
Dari waktu ke waktu, Beijing membesar-besarkan tingkat pertumbuhan PDB riil dan indikator penting lainnya. Karenanya, data resmi terbaru telah memunculkan banyak pertanyaan atas hasil ekonomi yang tidak tepat. Secara khusus, pertumbuhan tahunan PDB diukur dengan perbandingan dengan kuartal-kuartal sebelumnya pada tahun ini, namun bukan dengan angka-angka tahun lalu. Hasilnya, kondisi keseluruhan nampak lebih positif. Selain itu, pemerintah China tidak memberikan gambaran yang lebih luas mengenai pemulihan ekonomi di seluruh negeri, yakni di daerah. Meskipun pemulihan ekonomi nasional tidak merata di seluruh negeri. "Pemulihan itu sendiri sebenarnya bercabang dua, dan Anda melihat kota-kota besar, Anda melihat daerah pesisir bekerja jauh lebih baik daripada bagian negara lainnya. Jadi, sebenarnya ada dua pemulihan yang tengah terjadi - Beijing ingin mengiklankan Beijing, Shanghai, jenis pemulihan Guangdong, namun itu bukan sebagian besar dari China,” ujar CEO perusahaan riset China Beige Book, Leland Miller.
Namun, masih ada ruang untuk optimisme. Misalnya, China mencatat pertumbuhan stabil dalam jumlah perjalanan di seluruh negeri. Di akhir September, China merayakan hari libur nasional yang dikenal dengan Golden Week. Tak heran jika jumlah penumpang mencapai 600 juta orang.