Sementara sebagian besar analis memprediksi akhir dari dolar AS, ada sebagian lainnya yang masih meyakini kekuatannya. Benar bahwa greenback tengah menghadapi masa-masa sulit dan para pakar valas memprediksi akhir dari hegemoni dolar AS. Namun, mantan Menteri Keuangan, kepala ekonom di Bank Dunia dan mantan Presiden Universitas Harvard Larry Summers berpendapat sebaliknya.
"Dolar adalah mata uang safe haven dunia. Tempat dimana uang masuk saat orang merasa gelisah dengan keadaan dunia," kata Summers dalam sebuah wawancara. Artinya mata uang AS kemungkinan akan bertahan dari badai apapun. Dengan demikian, jika terjadi krisis global, dolar AS akan menjadi lebih kuat terhadap haluan eksternal dibandingkan dengan mata uang negara lainnya. Ia yakin bahwa dolar AS tidak akan jatuh meski tumpukan utang senilai $16 triliun. "Semua bahaya berada pada jika mengeluarkan terlalu sedikit sekarang, dan bukan mengeluarkan terlalu banyak," jelasnya. Ia juga menambahkan, "meski tepat untuk khawatir mengenai utang negara yang meningkat, lingkungan suku bunga mendekati nol menunjukkan bahwa pemerintah sanggup untuk meminjam lebih besar".
Summers mengakui bahwa pandemi virus corona akan merugikan ekonomi AS $16 triliun, lebih dari empat kali krisis ekonomi dari Depresi Besar. Ia juga menyarankan pemerintah untuk memberikan bantuan keuangan lebih kepada pengangguran dan keluarga berpenghasilan di bawah rata-rata dan bukan meminjamkan uang ke perusahaan-perusahaan yang layak diberikan pinjaman.