yangTidak diragukan lagi, pimpinan baru Gedung Putih akan meninjau banyak aspek ekonomi dan politik masyarakat. Penggantian kabinet dalam ekonomi teratas global ini tentu akan berdampak pada kebijakan dalam dan juga luar negeri. Dengan demikian, negara lain dan aliansi internasional lainnya akan perlu menyesuaikan kebijakan mereka terhadap sikap pemerintahan AS yang baru.
Pasar minyak tidak terkecuali karena sangat bergantung pada retorika Presiden AS. Pelantikan Joe Biden sebagai Presiden tentu saja menjadi titik kritis bagi OPEC. Sementara itu, para pakar mencoba mencari tahu apakah pimpinan AS yang baru akan mendorong harga minyak naik atau turun.
Kebijakan luar negeri Biden diperkirakan akan memperlunak sanksi, termasuk sanksi terhadap Iran dan Venezuela. Langkah ini akan membanjiri pasar minyak yang telah tersaturasi dengan lebih banyak persediaan minyak dari sumber-sumber baru, dan dengan demikian mendorong turun harga minyak. Sebagian basar pakar berbagi proyeksi yang sama ini, memprediksikan kemerosotan harga minyak. Namun, muncul sudut pandang berlawanan pada prospek minyak.
“Kepresidenan Biden semakin memperkuat kemungkinan bahwa anggota-anggota OPEC+ yang lebih besar akan mengambil pendekatan yang lebih konservatif dan bergantung pada apakah harga minyak tetap dalam kisaran $30 yang dapat memicu mereka memangkas produksi lebih lanjut pada Januari mendatang," ahli strategi minyak Citigroup Edward Morse menyatakan perkiraannya. Presiden terpilih akan menjadikan Rusia dan Arab Saudi sebagai sekutu yang lebih dekat yang lebih tertarik untuk bekerja sama, para pakar mendukung poin ini. Mereka akan mengusulkan untuk mempertahankan persediaan minyak di level yang rendah hingga OPEC memutuskan untuk meningkatkan pemotongan produksi minyak.