Menurut estimasi yang disediakan oleh Bank for Internasional Settlements (BIS), saat ini, sebagian besar aset dinilai terlalu tinggi. Lonjakan pasar saham dapat disebabkan oleh kesuksesan pengembangan vaksin terhadap virus corona dan pemilihan presiden AS belum lama ini.
Dalam laporan per kuartalnya, BIS mencatat bahwa pasar saham dan kredit global telah melewati level-level sebelum krisis. Bahkan pandemi virus corona gagal menghentikan tren kenaikan. Para analis menekankan adanya korelasi antara harga aset berisiko dan prospek ekonomi global. Claudio Borio, Kepala Monetary and Economic Department mengatakan bahwa "pertanyaan mengenai valuasi yang terlalu senjang" telah ada bahkan sebelum krisis virus corona.
Para analis khawatir dengan situasi di pasar kredit korporat. "Kita beralih dari krisis fase likuiditas ke fase solvabilitas," Borio menjelaskan. Saat ini, tumpukan utang global berimbal hasil negatif telah membengkak ke 17,5 triliun. Akibatnya, investor yang ingin menghasilkan uang beralih ke aset-aset yang lebih berisiko. Di bawah kondisi ini, para pakar meminta badan regulator untuk terus menopang ekonomi. Mereka yakin bahwa strategi ini akan membantu mengatasi krisis yang disebabkan oleh virus.