Pada hari Senin, 28 Desember, Tesla Inc yang dipimpin oleh miliarder Elon Musk akan menjadi salah satu perusahaan paling berharga di S&P 500, menurut Reuters. Para analis memperkirakan bahwa produsen mobil tersebut akan menyumbang lebih dari 1% dari indeks global.
Para ahli yakin bahwa masuknya Tesla ke indeks S&P 500 akan memaksa dana pelacakan indeks untuk membeli saham produsen mobil listrik tersebut senilai lebih dari $80 miliar. Ini diperlukan untuk menjaga keseimbangan dalam indeks dan membentuk portofolio investasi dengan benar. Pada saat yang sama, dana ini harus menjual saham konstituen S&P 500 lainnya dengan nilai yang sama.
Namun, fakta apakah Tesla akan menerima investasi dana besar atau tidak masih menjadi pertanyaan. Beberapa investor menganggap Elon Musk sebagai pengusaha sukses, sementara investor lainnya memiliki pandangan yang berlawanan. Kelompok kedua tersebut menganghap bahwa Tesla telah gagal mencapai target produksi. Selain itu, mereka yakin manajemen perusahaan terancam setelah Musk lengser sebagai ketua dewan pada 2018.
Sejak awal tahun ini, saham Tesla telah meroket hingga 700%, dan nilai pasarnya telah mencapai $600 miliar. Pada akhir tahun 2020, produsen mobil tersebut telah menjadi perusahaan paling berharga keenam di pasar AS.
Lonjakan dramatis dalam saham ini menjadikannya produsen mobil termahal di dunia, menurut para ahli. Pada pertengahan November 2020, manajemennya mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan bergabung dengan S&P 500. Dengan latar belakang tersebut, saham produsen mobil listrik tersebut melonjak sekitar 60%, meski banyak yang menganggapnya terlalu mahal.
Tesla sejauh ini menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan berdasarkan nilai di Wall Street. Selama setahun terakhir, Tesla rata-rata diperdagangkan lebih dari $18 miliar per hari. Tercatat Apple menempati posisi kedua dalam daftar ini, dengan volume perdagangan bernilai sekitar $14 miliar per sesi, menurut data Refinitiv.