China ternyata menjadi satu-satunya ekonomi besar yang dapat membanggakan hasil tahun lalu. Negara ini berhasil mengakhiri tahun 2020 yang dilanda virus corona dengan perolehan, meski kecil. Produk domestik bruto China naik 2,1% pada skala tahunan.
Bisnis lokal menjadi sektor pertama yang merespon wabah virus corona. Mereka mampu menghasilkan uang banyak dari penjualan peralatan medis. Menurut kepala ekonomi China di Barclays Hong Kong, Jean Chan, produsen China berhasil beradaptasi dengan krisis yang bergerak cepat dengan mengalihkan lini produksi mereka ke produk-produk baru yang sangat dibutuhkan di era COVID-19.
Secara keseluruhan, ekspor tumbuh 41% dalam skala year-on-year. Industri teknologi tinggi menjadi sumber penghasilan ekspor utama untuk China. Penjualan peralatan dan komponen membawa $211 miliar ke dalam negara. Kenaikan dalam pendapatan ekspor seperti ini mendukung yuan. Mata uang nasional China berhasil menambah nilai menjadi 6,5 per dolar dari 7,1 per dolar dalam waktu kurang dari satu tahun.
Menurut estimasi IMF, produksi nasional AS, yang merupakan lawan utama China dalam sektor ekonomi, kemungkinan berkontraksi 4,3% pada 2020. Sedangkan untuk ekonomi terbesar dunia lainnya, para pakar mengantisipasi Spanyol, Italia dan Prancis turun masing-masing 12,8%, 10,6%, dan 9,8%. Jerman juga diprediksi mengakhiri akhir tahun dalam zona merah (-6%). Total, negara-negara berkembang kehilangan 3,3 persen, sementara negara maju menyusut 5,8%.