Utama Kuotasi Kalendar Forum
flag

FX.co ★ Para ahli prihatin tentang distribusi vaksin yang tidak merata di seluruh dunia

back back next
Humor Forex:::2021-04-26T11:10:26

Para ahli prihatin tentang distribusi vaksin yang tidak merata di seluruh dunia

Per April 2021, banyak negara-negara makmur telah membuat kontrak pengiriman 4,6 miliar dosis vaksin COVID-19. Menariknya, terlepas dari masalah keamanan yang serius, AstraZeneca, perusahaan farmasi Inggris-Swedia, tetap menjadi pemasok utama vaksin virus corona.

Menurut survei oleh Duke University, AstraZeneca wajib menyediakan 2,4 miliar dosis vaksi ke negara-negara di seluruh dunia. Vaksi populer kedua ini adalah dari Pfizer/BioNTech. Perusahaan berkomitmen untuk menyediakan pembelinya 1,5 miliar suntikan. Peringkat ketiga diberikan kepada vaksin asal China Sinovac seiring perusahaan yang diperkirakan akan memasok 480 juta dosis. Vaksi keempat dengan permintaan tinggi adalah buatan Rusia Sputnik V. Produsennya akan memasok 303 juta dosis pada pasar global.

Mengacu pada penelitian dari Duke Duke Global Health Innovation Center, negara-negara dengan penghasilan tinggi di dunia bertanggung jawab atas bagian yang lebih besar dari pembelian vaksin COVID-19. Negara-negara tersebut telah memesan 4,6 miliar dosis untuk jangka pendek yang merupakan 53% dari semua dosis yang dibeli. Pada saat yang sama, negara-negara dengan pendapatan menengah dan rendah tidak mampu membeli vaksin dalam jumlah yang sesuai, sehingga mereka hanya memesan 770 juta dosis atau 16% dari keseluruhan pembelian.

Pembeli terkuat dari vaksi COVID-19 adalah European Commission, bertindak atas nama 27 negara-negara UE. Otoritas UE telah mengelola pemasokan 1,8 miliar dosis. Pembeli terbesar kedua adalah AS, yang telah membeli 1,2 miliar dosis. Negara-negara di Afrika telah membuat kontrak pengiriman sebanyak 680 juta suntikan. Inggris telah memesan 475 juta dosis. Brazil telah membeli 370 juta dosis.

Mengutip Kementrian Luar Negeri China Wang Yi, negara-negara berpendapatan tinggi membeli lebih banyak vaksi dari yang sebenarnya mereka butuhkan untuk mengembangkan imunitas publik diantara negara mereka. Pendistribusian tidak merata ini yang harus disalahkan atas defisit vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah. Diplomat top China menyebut keadaan ini sebagai "nasionalisme vaksin". Namun, otoritas UE menolak label tersebut karena mereka menyumbangkan sebagian vaksin untuk inisiatif COVAX.

Perusahaan-perusahaan farmasi harus berurusan dengan masalah pada fasilitas yang menghentikan pengiriman berdasarkan kontrak mereka. Pada bulan April, 15 juta dosis terkontaminasi di pabrik Johnson & Johnson dan AstraZeneca di Baltimore, AS.

Produsen obat Inggris AstraZeneca mengalami efek samping yang serius selama kampanye vaksinasi di UE. Setelah adanya laporan tentang pembekuan darah, sejumlah negara Uni Eropa memutuskan untuk menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca. Otoritas kesehatan Inggris bermaksud melarang penggunaan vaksin untuk orang yang berusia di bawah 30 tahun.

Menurut data dari UK Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), 30 kasus pembekuan darah tercatat setelah 18,1 juta suntikan AstraZeneca telah digunakan.

Para ahli memperkirakan bahwa semua perusahaan farmasi yang terlibat mampu memproduksi 12 miliar dosis vaksin COVID-19 sepanjang tahun 2021.

Bagikan artikel ini:
back back next
loader...
all-was_read__icon
Anda telah menyaksikan semua publikasi
terbaik saat ini.
Kami sudah mencari sesuatu yang menarik untukmu...
all-was_read__star
Baru saja diterbitkan:
loader...
Publikasi lebih baru...