Kurangnya pengawasan pemerintah dan perang sipil di Libya memicu pencaplokkan salah satu pelabuhan laut kunci bagian timur Libya Es Sider oleh separatis. Kini, pemberontak telah melakukan pengiriman minyak yang tidak sah melalui arteri pengiriman penting Libya tersebut. Menurut sumber terdekat, ada pasokan besar bahan bakar ke Republik Rakyat Demokratis Korea (DPRK). Beberapa laporan dari Es Sider mengatakan kapal tanki Korea Utara Morning Glory telah tiba di pelabuhan dan siap mengisi minyak mentah. Pemerintah Korea Menegaskan informasi bahwa kapal berada di Es Sider, namun menekankan bahwa operasi perdagangan apapun dengan separatis Libya adalah ilegal. Dengan deminian, ihak otoritas melepaskan beban tanggung jawab mereka terhadap tindakan dari kedua belah pihak sebelum pengamat-pengamat internasional menilai. Pyongyang tidak berkomentar terhadap situasi ini karena menganggap sanksii tidak berdasarkan hukum dan tidak perlu dipatuhi. Lingkungan di Libya tidak stabil dan pemerintahan di Tripoli tidak memiliki kendali penuh terhadap negara. Separatis mengambil alih pelabuhan dan kilang-kilang minyak. Musim gugur lalu, pihak pemberontak bahkan mendaftarkan perusahaan mereka sendiri Libya Oil and Gas Corp dan mengumumkan rencana untuk mengekspor minyak mentah. Namun, hanya sedikit yang bersedia bekerja untuk perusahaan tersebut meski cara pemasarannya yang efektif dengan potongan harga dan penangguhan pembayaran. Semua transaksi yang diselesaikan dilakukan secara rahasia. Pengiriman minyak mentah Libya adalah perusahaan yang beresiko besar karena kapal tanki dapat dikemudikan dengan mudah. DPRK menerima resiko yang ada karena pembelian energi menjadi anggaran utama negara tersebut. Tahun lalu, DPRK membeli 578.000 ton minyak dari Cina.