Di saat para analis telah memprediksi kesuraman dan malapetaka bagi perekonomian global karena perang perdagangan AS-Tiongkok, banyak hal yang ternyata jauh lebih baik. Rupanya, skala kesuraman tersebut agak kecil untuk menimbulkan kerugian, tetapi cukup membawa keuntungan. Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional dan Bank Dunia, perang dagang AS-Tiongkok telah meningkatkan ekspor negara lain secara signifikan.
Para analis mendapati bahwa konflik antara dua ekonomi terbesar dunia tidak merugikan pasar, tetapi sebaliknya, membantu negara lain untuk memperluas rantai pasokan mereka. Misalnya, 48 dari 50 negara pengekspor minyak terkemuka, kecuali Tiongkok dan Amerika Serikat, memperbesar ekspor ke AS dan negara-negara lain, mengurangi pengiriman hanya ke Tiongkok. Negara-negara dengan ekonomi terbuka, arus masuk investasi asing langsung yang tinggi, dan perjanjian perdagangan dengan negara-negara lain paling diuntungkan dari perang dagang ini. Selain itu, prakiraan suram tidak menjadi kenyataan berkat Washington juga. Otoritas AS tidak menaikkan tarif barang elektronik dan berbagai barang Tiongkok, dengan pangsa pasar sekitar 80-90%.
Sebelumnya, para ekonom memperingatkan bahwa bea perdagangan antara AS dan Tiongkok dapat menimbulkan ancaman serius bagi pasar global. Misalnya, WTO memprediksi dampak negatif perang dagang terhadap investasi. Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) khawatir dengan perlambatan tersebut. Namun terkadang, para analis cenderung melebih-lebihkan.