Sesuai janjinya, Federal Reserve System melanutkan kebijakan menurunkan program pembelian obligasi ditengah-tengah ketegangan geopolitik global dan ancaman terhadap stabilisasi ekonomi. Program QE Fed diluncurkan untuk menstabilkan situasi di pasar saham setelah krisis keuangan 2008. Namun, langkah Fed tersebut tidak dirancang untuk jangka panjang. Di pertengahan tahun lalu, regulator AS tersebut mulai menyiapkan pasar untuk penurunan bertahap pembelian obligasinya. Saat itu Fed berencana memotong program pembelian obligasi sebesar $10 miliar per bulannya. Volume awal program tersebut mencapai total $85 miliar. Di awal Mei pemotongan pembelian obligasi kembali dilakukan. Dengan begitu, pembelian aset bulanan diturunkan menjadi $45 miliar. Adalah Ben Bernanke yang memutuskan kebijakan yang lebih ketat. Janet Yellen, wanita pertama yang memimpin bank sentral AS, mengikuti kebijakan tersebut. Pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam di triwulan kedua setelah cuaca musim salju yang buruk; namun, inflasi tetap dapat dikendalikan hingga 2015. PDB diperkirakan akan terus naik dan mempertahankan laju pertumbuhan yang tercatat di triwulan pertama. Diperkirakan ekonomi AS akan naik 2,6% tahun ini dan 3,5% di 2015. tahun lalu rata-rata pertumbuhan sebesar 1,9%. Di awal 2014, indikator-indikator ekonomi AS menunjukkan angka yang lemah dan meleset dari perkiraan. Namun, para ekonom yakin bahwa mereka akan melihat angka yang lebih kuat di triwulan kedua. Federal Reserve berjanji akan mengakhiri program stimulus moneter di akhir tahun ini.