Setelah Visa Inc., jaringan kartu kredit terbesar di dunia, telah memberikan laoran per triwulan, Kepala Finansial Byron Pollitt menekankan bahwa jumlah transaksi di Russia turun dan memunculkan kekhawatiran atas paket sanksi selanjutnya, Pollitt menyatakan. "Staff Visa telah menjadi tawanan kebijakkan Russia dan A.S. Russia telah mengeluarkan 100 juta kartu visa sampai saat ini. Tidak ada satupun khususnya penduduk nasional Russia, tertarik dengan kemungkinan kehilangan penggunaan kartu ini. "Selain itu, managemen Visa telah mengamati pengembangan sistem pembayaran domestik di negara lagi dan telah menjadi perhatian besar. Belakangan ini, banyak negara telah menetapkan pengembangan dan peningkatan alternatif pembayaran kompetitifnya sendiri. Sementara itu, Visa menganggap hal ini memiliki ancaman serius pada bisnisnya di masa depan. Profit bersih Visa naik 26% atau $1,6 milyar untuk triwulan 1 2014. Profit tersebut mampu menunjukkan hasil mengesankan meskipun harus meningkatkan biaya operasi karena kampanye promosi besar, Olimpiade di Sochi dan juga Piala Dunia di Brazil yang masih tertunda. Di awal tahun 2014, 2.229.000 kartu visa telah dikeluarkan di seluruh dunia, yaitu lebih banyak 6% dari tahun lalu. Pemerintah Russia sedang mengatasi masalah ini untuk menghasilkan sistem pembayaran nasional. Tugas ini diteapkan oleh Presiden Vladimir Putin setelah Visa dan MasterCard telah menetapkan transaksi bank Rossiya, SMP Bank, dan institusi yang memberikan pinjaman lainnya, oleh karena itu mendukung sanksi yang dijatuhkan oleh blok barat. Perdana Menteri Russia Dmitry Medvedev yakin aksi aktif ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja. "Mitra asing telah membatasi bank Russia dari sistem pembayaran internasional. Tidak diragukan lagi, hal tersebut telah berhubungan dengan penyedia sistem pembayaran. Saya amat yakin bahwa hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja," Dmitry Medvedev menyatakan.