Mengutip laporan Business Insiders, krisis energi yang muncul di Eropa menyebabkan inflasi yang lebih tinggi di Jepang. Para ahli memprediksi jika inflasi dapat melonjak lebih tinggi lagi.
Saat ini, harga energi di zona euro telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenaikan tajam pada harga komoditas yang tercatat di beberapa negara Eropa mendorong naiknya harga konsumen di Jepang. Pada bulan Juli, CPI naik sebesar 2,6% level tahunan.
Apabila krisis energi di Eropa semakin parah, tingkat inflasi Jepang kemungkinan akan tetap tinggi. Terutama pada bulan Agustus di mana harga gas di Eropa melampaui $3.500 per seribu meter kubik. Komoditas ini naik nilainya di tengah kenaikan futures Asia dan ekspektasi penghentian operasi Nord Stream. Menurut pengumuman itu, Gazprom akan menghentikan pasokan gas ke Eropa selama 3 hari, mulai 31 Agustus.
Sementara itu, survei Teikoku Databank menemukan bahwa harga 2.431 item dijadwalkan naik pada Agustus. Pada bulan Oktober, harga dapat melonjak sekali lagi.
Di tengah musim panas, Bank of England menerbitkan data yang mengungkapkan bahwa 90% warga Jepang menghadapi masalah akibat harga yang naik. Pada Maret 2022, hanya 22,4% responden yang menekankan adanya kenaikan harga barang yang mencolok.