Kekacauan ekonomi global telah mempengaruhi ekonomi maju dan berkembang. Inggris memiliki ekonomi terbesar ke-enam di dunia berdasarkan produk domestik brutonya. Namun, salah satu lembaga pemeringkat paling berpengaruh, S&P Global Ratings (S&P), menurunkan peringkat kelayakan kredit Britania Raya ke "negatif" dari
stabil".
Para ahli di S&P Global Ratings merilis rating terbaru Inggris segera setelah pemerintahan yang baru mengungkapkan rencana fiskalnya. Alasan utamanya adalah rencana pemotongan pajak Perdana Menteri yang akan menimbulkan kekhawatiran mengenai prospek fiskal negara karena utang publik yang besar. Pada bulan September, mantan Menteri Keuangan Kwasi Kwasteng memperkenalkan paket langkah-langkah stimulus kepada Parlemen yang ditujukan untuk mendorong ekonomi domestik melalui pemotongan pajak yang masif. Selain itu, pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana kenaikan pajak laba korporat ke 25% dari angka saat ini sebesar 19%. Para ahli S&P tidak menyukai kedermawanan ini.
Revisi prospek tersebut mencerminkan pandangan lembaga ini sementara risiko fiskal untuk kesehatan keuangan Inggris dalam dua tahun mendatang semakin meningkat. Para ahli menduga bahwa langkah stimulus yang diusulkan dapat melemahkan ketahanan keuangan Inggris. Saat ini, otoritas berencana mendanai langkah tersebut melalui pinjaman tambahan tanpa adanya langkah-langkah untuk mengurangi pengeluaran anggaran dan pendapatan.