UU Pengurangan Inflasi 2022 atau Inflation Reduction Act of 2022 (IRA) berpotensi semakin menyulut api perang dagang baru antara AS dan Eropa. Sekilas, tujuan UU federal yang bijaksana ini bertujuan untuk memastikan dukungan terhadap “bisnis hijau” tetapi mungkin berakhir dengan konflik dagang besar-besaran antara sekutu solid ini. Otoritas UE telah menyatakan ketidakpuasan mereka dan memperingatkan Washington tentang konsekuensinya.
Brussel berang menanggapi paket subsidi dan skema keringanan pajak hingga $360 miliar demi mendorong teknologi rendah karbon di AS. Di bawah undang-undang legislatif ini, perusahaan Amerika akan merasakan manfaat pemotongan pajak yang belum pernah terjadi sebelumnya serta hak istimewa yang berlimpah terkait keamanan energi saat membuka fasilitas produksi mereka di AS. Dengan mengutamakan perusahaan dalam negeri, Washington seolah mendeklarasikan perang dagang. Otoritas UE mengecam keengganan Washington untuk merundingkan kesepakatan damai. Undang-undang tersebut akan memastikan banyak perusahaan untuk memindahkan investasi mereka keluar dari Eropa dan mendorong orang untuk membeli barang dagangan buatan AS. Hal yang menjadi perhatian UE adalah keunggulan kompetitif kendaraan elektronik Amerika yang akan memberikan pukulan bagi negara-negara produsen mobil Eropa, misalnya Prancis dan Jerman. Seorang kolumnis dari Politico menegaskan bahwa undang-undang proteksionis semacam itu membuat para pemimpin Eropa ketakutan akan kejatuhan ekonomi bagi industri dalam negeri. Akibat melonjaknya harga energi, beberapa perusahaan papan atas saat ini menghentikan operasinya di Eropa untuk berinvestasi di negara lain. “Namun, gencatan senjata sepertinya tidak mungkin terjadi. Apabila perselisihan ini semakin tidak terkendali, maka akan menyebabkan perang dagang,” Politico memperingatkan.
Tanggapan awal dari UE adalah protes simbolis di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kebuntuan bisa melibatkan perang tarif dengan mudah. Komisaris Pasar Internal Thierry Breton mengatakan pada November bahwa Brussel siap membalas untuk melindungi kepentingan pabrikan Eropa.