Menurut Bloomberg, Jerman akan membutuhkan $1 triliun untuk menangani risiko krisis energi. Biaya ini diestimasi akan membuahkan hasil pada tahun 2030.
Negara itu diprediksi menganggarkan sekitar $1 triliun untuk meningkatkan produksi energi terbarukan dan mengatasi risiko-risiko krisis energi pada tahun 2030. Program ini dianggap sebagai program paling ambisius Jerman dalam 80 tahun.
Biaya ini akan mencakup investasi dalam peningkatan sistem tenaga untuk mengatasi ditinggalkannya pembangkit listrik tenaga batu bara dan nuklir. Selain itu, permintaan untuk kendaraan listrik dan sistem pemanasan yang baru diperkirakan akan tumbuh sebagai bagian dari kewajiban perlindungan iklim. Jerman telah menganggarkan sekitar $275 miliar, tapi angka akhir program ini akan jauh lebih tinggi.
Kanselir Olaf Scholz mengatakan Jerman berencana memasang panel surya dengan cakupan area setara 43 lapangan sepak bola, menjamin kelancaran kerja pompa kalor (heat pump), dan membangun 27 ladang angin di darat dan 4 di lepas pantai per minggu. Sehubungan dengan permintaan energi yang terus tumbuh, badan penelitian Agora Energiewende membuat estimasi bahwa Jerman perlu mencapai kapasitas listrik sekitar 250 gigawatt pada tahun 2030.
Menurut Robert Habeck, Menteri Federal untuk Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim, ini akan menjadi program paling berani sejak rekonstruksi Jerman setelah Perang Dunia ke-2
Pada tahun 2022, listrik Eropa yang dihasilkan dari beberapa sumber energi terbarukan (22%) menyusul gas alam (20%) untuk pertama kalinya. Tahun lalu, persediaan gas alam Rusia ke Eropa, khususnya ke Jerman, turun tajam, ini mendorong kekhawatiran krisis energi. Sehingga, para pimpinan UE memberlakukan serangkaian tindakan yang ditujukan untuk menghemat bahan bakar dan energi.