Badan Energi Internasional (IEA) baru-baru ini mengevaluasi hasil keputusan UE untuk menerapkan embargo terhadap produk minyak Rusia. Menurut Toril Bosoni, kepala industri minyak dan divisi pasar di IEA, sanksi yang menargetkan minyak Rusia memiliki “efek yang diinginkan” meskipun produksi dan ekspornya cukup tangguh dalam beberapa bulan terakhir. Namun, bilangan riil menunjukkan bahwa pembatasan harga mungkin tidak seefektif yang diperkirakan. Misalnya, produksi bersih minyak Rusia turun hanya 160.000 barel per hari dari level sebelum perang di bulan Januari. Bosoni menjelaskan bahwa Moskow mampu mengalihkan sebagian besar impor minyak mentahnya ke pasar baru di Asia. Dengan demikian, peningkatan ekspor minyak mentah Rusia ke Tiongkok, India, dan Turki sebagian telah mengimbangi hilangnya pendapatan yang berasal dari pasar Eropa. Pejabat IEA juga mencatat bahwa batasan harga tidak dimaksudkan untuk menghilangkan minyak Rusia dari pasar. Sebaliknya, dirancang untuk menjaga aliran minyak murah Rusia ke pasar global sambil mengurangi pendapatan Kremlin dari penjualan minyak mentah. Mekanisme pembatasan baru telah berjalan selama tiga bulan dan telah merugikan anggaran Rusia. Jadi, di bulan Januari, pendapatan pajak dari industri minyak turun 48% YOY sementara pendapatan ekspor turun 36% dari tahun lalu.