Departemen Keuangan AS memperingatkan perusahaan di Tiongkok dan negara lain bahwa mereka akan dihukum jika tetap menjalin kerja sama dengan Rusia yang melanggar sanksi AS. Dengan kata lain, AS siap menjatuhkan sanksi terhadap banyak perusahaan.
Wakil Menteri Keuangan, Wally Adeyemo, mengatakan bahwa otoritas AS akan mencekal perusahaan yang menolak menghentikan kerja sama dengan Rusia. Terlebih, Tiongkok juga dirugikan akibat pembatasan tersebut, tetapi dalam beberapa kasus, negara ini harus mematuhi aturan demi kepentingannya. Sementara perusahaan-perusahaan negara dan bank mengikuti aturan yang ditetapkan oleh AS, organisasi komersial tetap pada pendiriannya dan terus bekerja sama dengan Rusia.
“Para pejabat akan langsung mendatangi perusahaan atau lembaga keuangan Tiongkok, dan menjelaskan kepada mereka bahwa kami siap untuk menerapkan sanksi jika mereka memberikan dukungan material kepada Rusia", ujar Wally Adeyemo. Beliau mengakui bahwa ekonomi Rusia "bernasib lebih baik" dari perkiraan semula. Namun, batasan harga pada energi Rusia kembali menekan sistem keuangan negara tersebut.
Perekonomian Rusia ternyata sangat tangguh. Ini bisa menjadi alasan bagi AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok dan mitra Rusia lainnya. “AS menghubungi beberapa bank dan perusahaan untuk memperingatkan mereka atas risiko terputus dari sistem keuangan AS dan mitra keuangannya", ujar Adeyemo.