Pemerintah UE mencoba untuk menghilangkan dampak negatif kenaikan tajam harga energi. Sebagian besar perusahaan dan warga sejumlah negara Eropa telah menghadapi permasalahan serius.
Namun, beberapa petinggi industri ternama Eropa yakin bahwa Uni Eropa tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk mensubsidi konsumsi bahan bakar fosil. Sebaliknya, Uni Eropa lebih baik mengurangi permintaan dan beralih ke sumber-sumber energi terbarukan.
Pemerintah "menggunakan semua uang kita untuk meredakan sakit untuk sementara dan bukannya menyembuhkan penyakit," ujar Philippe Delorme, kepala operasional grup industrial Eropa, Schneider Electric. "Ada kebutuhan yang mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar karbon ini dan mengatasi inefesiensi penggunaan energi," tambahnya.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), subsidi global untuk konsumsi bahan bakar fosil lebih dari $1 triliun pada tahun 2022. Dengan kata lain, pemerintah mengeluarkan banyak uang.
Data yang disediakan oleh kelompok penelitian ekonomi Bruegel menunjukkan bahwa sejak September 2021, negara-negara anggota UE telah mengalokasikan lebih dari 657 miliar euro untuk menopang konsumen di tengah pertumbuhan harga energi. Sebagai contoh, Jerman sendiri mengambil bagian 265 miliar euro.
“Semua pemerintah sebaiknya menetapkan target hanya pada konsumen-konsumen yang rentan dan menyediakan insentif kepada mereka untuk hidup ramah lingkungan," ujar penulis laporan Bruege, Simone Tagliapietra.
“Jika kita mampu menghabiskan setengah atau sepertiga dari anggaran itu untuk mempercepat laju transisi, itu akan jauh lebih baik untuk Eropa dan sektor industrinya," kepala manufaktur depo bahan bangunan Saint-Gobain, Benoit d’Iribarne, juga mengungkapkan pandangannya mengenai isu ini.
Belum lama ini, para ahli di pusat analitis, Ember, melaporkan bahwa pada akhir tahun 2022, negara-negara UE telah menerima sebagian besar energi dari sumber terbarukan dan bukan dari bahan bakar gas untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Tahun lalu, pembangkit listrik tenaga angin dan surya menghasilkan 22% energi di Uni Eropa, sementara pembangkit listrik berbahan bakar gas menghasilkan sekitar 20% dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menyediakan 16% energi.