Pemerintah AS menyetujui rencana pengeboran minyak di Alaska yang disebut Willow, yang dipimpin oleh produsen minyak mentah terbesar di Alaska, ConocoPhillips. Perusahaan ini terlibat dalam pengembangan deposit bahan baku di wilayah barat laut negara itu. Proyek Willow senilai $8 miliar tersebut mungkin menjadi salah satu proyek termahal di sektor komoditas AS. Rencana tersebut memungkinkan ConocoPhillips untuk mengembangkan tiga bantalan sumur yang akan menghasilkan sekitar 600 juta barel minyak dan 180.000 barel per hari atau 1,6% dari kapasitas produksi minyak AS. Pada saat yang sama, rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang emisi karbon yang dapat menyebabkan bencana alam. Pengeboran tersebut akan menghasilkan sekitar 278 juta metrik ton emisi karbon. Oleh karena itu, aktivis lingkungan telah lama mengecam rencana tersebut. Aktivis iklim telah berunjuk rasa menentang proyek Willow, menuntut untuk menghentikannya karena pengeboran baru tersebut dapat sangat merusak lingkungan dan meningkatkan perubahan iklim di wilayah tersebut. Selain itu, rencana tersebut melanggar janji pemerintahan Biden untuk mengurangi perubahan iklim dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Joe Manchin, ketua Energi dan Sumber Daya Alam Senat, percaya bahwa produsen bahan baku AS dapat sepenuhnya menggantikan minyak dan gas Rusia di pasar energi Eropa. Manchin mencatat bahwa setiap negara akan memutuskan apakah akan mengizinkan impor energi Rusia atau tidak. Di saat yang sama, Joe Biden kemungkinan akan membatasi pengeboran minyak di 16 juta acre (6,5 juta hektar) di Alaska dan Samudra Arktik. Pada bagian kedua dari rencana tersebut, pemerintahan presiden AS akan mengembangkan peraturan pengeboran baru untuk lebih dari 13 juta acre (5,3 juta hektar) di Alaska.