Menurut Perdana Menteri Jerman, Olaf Scholz, penggantian gas Rusia dengan sumber energi alternatif dianggap sebagai sumber kebanggaan. Scholz mengatakan bahwa Jerman berhasil mengganti gas dari Rusia dengan persediaan dari negara-negara lain. Kanselir Jerman itu bangga bahwa negaranya kehilangan gas murah Rusia yang mencakup sekitar 50% dari semua energi yang diimpor. Sementara itu, pihak otoritas perlu mengeluarkan lebih banyak uang pada sektor pertahanan dan benar-benar mengubah struktur konsumsi energi. Pada waktu yang sama, Scholz mengatakan bahwa penghentian pasokan gas ke Jerman terjadi karena inisiatif dari Moskow. Saat ini, negara itu mengalami pasokan gas yang menyusut karena saluran gas Nord Stream dihancurkan pada tahun 2022. Terlebih, saluran pipa tersebut adalah rute utama untuk transisi gas alam. Sebagai tambahan, Jerman bergantung pada pasokan pupuk Rusia, yang volumenya naik hingga lebih dari 300%. Para ekonom memprediksi bahwa gas dan listrik kini menyumbang sekitar 80-90% harga pupuk di Jerman. "Itu berarti, pada akhirnya, pupuk yang diimpor sama saja seperti gas alam Rusia yang murah dengan tingkat yang lebih baik," analis menjelaskan.